Lebaran di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris

Lebaran di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris

Oleh Dr. Hisyam Zaini, M.A.*

Lebaran adalah saat yang dinanti-nanti oleh ribuan bahkan jutaan umat Islam Indonesia, dan juga beberapa negara tetangga. Lebaran adalah momen yang membahagiakan, karena pada saat ini umat Islam, yang menjadi mayoritas di Indonesia, berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan keluarga, baik orang tua, kakek nenek, maupun sanak saudara yang lain. Berkumpul dengan keluarga, menikmati hidangan masakan kampung yang lama tidak dirasakan merupakan kesempatan yang langka, dan mungkin hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika pada saat ini jutaan umat Islam berjuang untuk bisa merasakan kegembiraan lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Dari sinilah tradisi ‘mudik’ menjadi budaya yang ada di Indonesia, dan itu sudah berlangsung semenjak puluhan tahun silam yang entah sampai kapan, tidak ada yang tahu.

Tradisi pulang kampung, untuk bersilaturahim dengan keluarga, untuk saling meminta maaf adalah budaya yang sesuai dengan ajaran Islam. Tradisi ini didukung oleh pemerintah dengan mengadakan libur nasional menyambut Idulfitri. Nah, pada saat libur inilah umat Islam memanfaatkan momen untuk berkumpul dengan orang-orang yang mereka kasihi. Maka dari itu, tidak mengherankan jika menjelang Idulfitri, terjadi pergerakan manusia yang masif, biasanya dari kota menuju desa. Inilah tradisi yang disebut dengan ‘mudik’. Mudik telah menjadi budaya yang mengakar pada umat Islam Indonesia, dan menjadi ciri dari Idulfitri itu sendiri.

Ketika kebahagiaan lebaran dirasakan oleh jutaan umat Islam Indonesia, ada sebagian umat Islam yang tidak merasakan secara langsung ‘gegap gempita’ lebaran tersebut karena berbagai hal, salah satunya karena sedang berada di negeri orang. Kondisi inilah yang akan saya ceritakan, sesuai dengan pengalaman saya ketika sedang studi di negeri Ratu Elisabeth, Inggris.

Tinggal di negara lain, yang jumlah umat Islam adalah minoritas, memiliki suka dan duka tersendiri. Pada dekade 90-an, saya mendapat beasiswa dari British Council lewat program Chevening, untuk melanjutkan studi magister (S2) di Leeds University, Inggris. Kota ini terletak di wilayah utara yang berjarak sekitar 350 km dari kota London. Perjalanan pertama dari London ke kota Leeds ditempuh, waktu itu, dengan kereta api ekspres yang, seingat saya, hanya memakan waktu sekitar 4-5 jam. Itulah pengalaman pertama naik kereta api, yang kalau dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sekarang, adalah setara dengan kereta api eksekutif. Meskipun saya waktu itu sangat kelelahan, saya sangat menikmati perjalanan, karena saya dapat melihat negara Inggris yang sebenarnya, yang bukan hanya kota-kota besar yang penuh dengan bangungan bertingkat, tetapi juga padang rumput luas yang disebut dengan ‘moor’.

Perjalanan kereta api yang cukup melelahkan ini merupakan nostalgia yang kalau saya ingat, saya sering tersenyum sendiri, entah karena kebodohan, atau karena perasaan rendah diri, maklum ini adalah perjalanan pertama saya di kota besar dan maju, bahkan di negara yang masih asing, Inggris yang dikenal sangat maju. Untuk mendapatkan cerita yang utuh, saya akan ’flashback’, yaitu mulai dari perjalanan dari Cengkareng sampai di kota tujuan, Leeds.

Waktu itu bulan Mei, kalau tidak keliru, saya dengan beberapa teman sesama penerima beasiswa British Council, memulai perjalanan dari bandara Soekarno Hatta. Dalam rombongan kecil tersebut, terdapat tiga orang calon dosen IAIN termasuk saya, yang satu dari IAIN Pekanbaru dan satunya lagi dari Surabaya, dan saya dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari bandara Soetta, kami menggunakan pesawat Garuda menuju Singapura. Di Singapura, kami menunggu cukup lama karena perjalanan akan kami teruskan dengan menggunakan pesawat British Airways. Sekitar jam 10 malam waktu Singapura kami berangkat menuju London dan tiba di Heathrow, bandara utama London, sekitar jam 6 pagi. Perjalanan yang cukup panjang dan nonstop. Tentu ini perjalanan yang cukup melelahkan.

Dari bandara Heathrow, saya dan teman-teman naik bus menuju kantor British council untuk mengurus administrasi, dan juga perbekalan selama berada di Inggris. Di kantor ini juga, rombongan kecil ini dipecah sesuai dengan kota tujuan masing-masing. Waktu itu saya tidak tahu dimana itu kota Leeds, dan berapa lama perjalanan kereta akan saya tempuh. Saya dengan dua teman IAIN yang lain belajar di universitas yang sama, jadi bisa satu perjalanan menuju kota Leeds. Dari kami bertiga, tidak ada satupun yang punya pengalaman luar negeri. Maklum pada masa itu belum banyak dosen yang belajar di luar negeri. Kami bertiga bisa dikatakan masih ‘kampungan’, belum punya pangalaman. Yang ada adalah rasa minder atau mungkin ‘takut’.

Kondisi fisik yang lelah dan juga mungkin penampilan ‘kampungan’ masih melekat pada kami bertiga, membuat kami tidak banyak bercakap-cakap. Ketika saya dan teman-teman IAIN sedang menunggu kereta di stasiun Victoria, stasiun kereta api terbesar di London, saya didatangi oleh seorang berkulit putih yang cukup mengagetkan, karena tanpa basa basi orang tersebut bertanya: From what church are you? Setelah mengatasi kekagetan itu, saya menjawab; ‘Sorry I’m a muslim”. Mendengar jawaban saya, orang itu terus pergi tanpa ada ucapan apapun. Peristiwa Itu menjadi nostalgia pertama saya beremu dengan orang Inggris.

Perjalanan kereta api dari London dengan tujuan kota Leeds dimulai sekitar pukul 11 siang, atau lebih sedikit. Sebetulnya British Train tidak berhenti di kota Leeds sebagai tujuan akhir, setahu saya kereta ini akan terus sampai ke kota di utara, yaitu Edinburgh di Skotlandia. Leeds hanyalah salah satu kota yang dilewati. Selama perjalanan, kami bertiga kelaparan karena semenjak turun dari pesawat jam 6 pagi, kami belum makan. Rasa lapar itu kami rasakan bertiga bahkan sesudah kami sampai di kota tujuan, Leeds. Namun demikian, rasa lapar itu tidak terlalu kami rasakan, mungkin karena rasa inferior atau rasa takut yang masih menyelimuti hati kami. Kami tidak berani bergerak, bertanya, atau mencari makan di dalam kereta. Bahkan yang lebih aneh, katika ada krew kereta yang lewat menjajakan makanan ringan, potato chips, kami diam tidak berani membeli. Wah, betul-betul keterlaluan ‘ndesonya’ atau ‘takutnya’. Saya kira itu juga yang menjadi makna dari peribahasa, malu bertanya sesat di jalan, atau malu bicara lapar selama perjalanan.

Setelah sampai di kota Leeds, kami mengikuti petunjuk yang telah diberikan di London oleh staf British Council untuk menuju apartemen mahasiswa yang telah ditunjuk. Sampai di apartemen kurang lebih jam 5 sore. Setelah masuk kamar, saya baru merasakan lapar yang luar biasa, karena dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore belum makan. Waktu itu, langit sangat cerah matahari masih bersinar panas. Karena sama-sama merasakan lapar, saya mengajak dua orang teman untuk keluar mencari makan. Ternyata apartemen saya tidak jauh dari kampus dan juga pusat kota. Dari kampus sekitar 10 menit jalan kaki, dan dari pusat kota sekitar 15 menit dengan jalan kaki.

Leeds adalah kota yang aman dan cukup indah. Kotanya tidak terlalu besar dan lalu lintas tidak terlalu padat. Ketika saya dan dua orang teman keluar apartemen, kami heran, kok sepi, padahal baru sekitar jam 5.30 an sore. Keheranan ini nantinya akan terjawab setelah agak lama tinggal di Leeds, yaitu bahwa semua toko tutup jam 5 sore. Saya lanjutkan cerita mancari makan. Saya dengan dua orang teman IAIN berinisiatif berjalan menuju pusat kota, kami pikir pasti ada warung makan yang buka di pusat kota. Ketika mendekati wilayah pertokoan, kami harus melewati jalan bawah tanah. Saya menghentikan dua orang teman saya. Saya sejak dulu suka ‘film-film action’. Dari film-film yang saya lihat banyak terjadi kejahatan di jalan-jalan bawah tanah. Dari situ timbul rasa takut, dan saya ceritakan kepada dua orang teman itu. Akhirnya kami sepakat berbelok arah, yaitu menuju kampus. Di depan kampus itu kami temukan satu-satunya rumah makan yang buka, yaitu ‘fried chicken’, dan kebetulan resto itu dimiliki oleh orang India. Itulah makan pertama kami di Inggris dan resto itu nantinya menjadi langganan saya sampai masa studi saya berakhir.

Di Leeds University, atau bisa dikatakan di kota Leeds, mahasiswa yang berasal dari Indonesia jumlahnya lumayan banyak, yaitu sekitar 30-an orang. Mereka berasal dari berbagai PT (perguruan tinggi) dan juga departemen. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Leeds berasal dari berbagai PT dan mengambil disiplin ilmu yang berbeda. Namun yang cukup menonjol adalah ‘transport studies’, di samping pendidikan. Saya dengan dua orang calon dosen IAIN yang lain mengambil program magister dibidang ilmu yang sangat berbeda, yaitu bahasa Arab, tepatnya Department of Modern Arabic Studies. Belum pernah ada mahasiwa Indonesia yang mengambil studi bidang ini, sehingga keberadaan kami membuat warna tersendiri, yaitu warna IAIN. Bahkan dari candaan teman-teman, ketika mereka diberitahu akan ada dosen IAIN yang belajar di universitas ini, mereka mengatakan; ‘Wah, mungkin karena mereka sudah banyak dosa sehingga dikirim oleh Allah tiga orang dosen IAIN’. Namun demikian, meskipun kami memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, kami memiliki keakraban yang luar biasa, bahkan sampai kami pulang ke Indonesia, kami memiliki perkumpulan Alumni Leeds University.

Leeds University, ketika saya belajar di sana, menjadi universitas favorit ke tiga di Inggris. Universitas ini memiliki reputasi Internasional dan banyak memiliki mahasiswa internasional, termasuk dari negara-negara muslim, di antaranya Indonesia. Di kota ini jumlah muslim sangat banyak meskipun saya tidak tahu persisnya. Indikasi banyaknya jumlah umat Islam ditandai dengan banyaknya jemaah yang melakukan salat Jumat dan juga salat Id. Untuk salat Jumat, saya memiliki pengalaman salat di tempat yang berbeda-beda, kadang di perpustakaan, di aula, atau bahkan di gereja tua yang sudah tidak terpakai. Salat Jumat dan juga salat Id diorganisasi oleh oraganisasi yang disebut muslim society. Pada tahun 90-an, belum ada masjid yang berdiri, tetapi sekarang umat Islam telah memiliki masjid dengan kapasitas 1200 jemaah.

Ketika bulan Ramadan tiba, suasana agak sedikit berbeda. Pada bulan ini oleh muslim society diadakan kegiatan ifthar, atau buka bersama ala Timur Tengah. Buka bersama ini diadakan di satu tempat yang cukup luas yang berada di pinggir taman yang terkenal di kota Leeds, Hyde Park. Tempat inilah yang sekarang berdiri masjid Leeds yang cukup megah, dengan arsitektur Eropa, tanpa kubah. Karena tempat tinggal saya agak jauh dari tempat ‘ifthar’, maka hanya satu dua kali saja saya ikut kegiatan. Kebersamaan umat Islam sangat terasa, dan dalam kegiatan ini terdapat pula muslimah yang rata-rata dari negara-negara Arab.

Suasana Ramadan hanya terasa bagi saya di tempat berkumpulnya umat Islam ketika ifthar. Ketika saya pulang ke apartemen, suasana sudah normal seperti hari-hari yang lain. Karena waktu itu teknologi informasi masih terbatas, hanya ada email, itupun tidak setiap hari dibuka, maka informasi kegiatan muslim society selalu diumumkan di papan-papan pengumuman yang ada di kampus.

Menjelang akhir bulan Ramadan, mahasiswa Indonesia, yang rata-rata muslim, mulai membicarakan apa yang akan dilakukan pada saat Idulfitri, yaitu setelah salat. Dari perbincangan teman-teman yang sudah berpengalaman di Leeds, disampaikan bahwa biasanya kawan-kawan berkumpul di rumah salah satu teman untuk merayakan hari raya dengan sekedar makan-makan bersama. Dari obrolan tidak resmi tersebut akhirnya muncul pembahasan tentang makanan. Disepakati bahwa disarankan setiap orang membawa makanan, apa saja, baik beli maupun dibuat sendiri di rumah. Saya masih ingat waktu itu saya kebagian membuat bakwan dan lumpia. Saya diminta membuat bakwan dan lumpia sayur, karena beberapa teman pernah merasakan bakwan dan lumpia buatan saya.

Ada yang lebih seru lagi, yaitu ketika teman-teman Indonesia berkumpul, ada beberapa yang membawa kenalannya atau temannya sesama muslim dari berbagai negara. Saya dan teman IAIN, mengajak teman dari Turki yang menjadi teman di kampus. Suasana menjadi lebih meriah karena teman Turki tersebut juga membawa makanan khas Turki, yang saya tidak ingat namanya. Lebaran biasanya diisi dengan acara kumpul dan makan bersama. Tidak ada acara keluar kota sebagaimana yang terjadi di Indonesia selesai sungkeman.

Berkumpul dengan teman-teman Indonesia, beberapa ada yang membawa keluarga, menjadikan lebaran tidak terasa sunyi. Apalagi ditambah dengan opor ayam, meski tanpa lontong atau ketupat, dan juga masakan-masakan Indonesia lainnya. Lebaran kala itu, meskipun tidak ada sungkem, tidak ada anjangsana, masih tetap dirasakan kebahagiannya. Oh, ya, kala itu hari biasa, artinya masuk kerja, atau yang mahasiswa, ya, masuk kuliah, tetapi lebaran tetap lebaran, kumpul, ya, tetap kumpul. Biasanya kami sudah memberitahu profesor masing-masing untuk minta izin satu hari tidak ikut kuliah. Rata-rata kami diizinkan untuk meninggalkan kuliah, kecuali hanya ada satu dua mahasiswa yang harus tetap masuk karena ada projek yang harus dikerjakan.

Itulah sepenggal kisah saya berlebaran di negeri Ratu Elisabeth, yaitu Inggris, tepatnya di kota Leeds bersama teman-teman Indonesia. Oh ya, ada satu lagi, yaitu kami dari PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) memiliki bapak asuh yang sudah sangat dekat dengan mahasiswa Indonesia. Beliau adalah dosen di Fakultas Pendidikan dan menjadi duta universitas di Indonesia. Setiap kerja sama universitas dengan lembaga di Indonesia, pasti melalui beliau. Dalam acara-acara yang diadakan oleh teman-teman Indonesia, beliau selalu diundang. Tidak jarang beberapa kegiatan teman-teman diadakan di rumah beliau yang letaknya di luar kota.

Sungguh pengalaman yang tidak akan terulang, karena semua sekarang sudah menduduki berbagai jabatan penting di negeri tercinta ini. Bagi pambaca semua, semoga bermanfaat. Bagi teman-teman Leeds, yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu-satu, ini adalah flashback untuk mengenang sepenggal kisah di kota Leeds dengan harapan suatu ketika bisa ‘napak tilas’, kembali ke Leeds untuk bernostalgia. Saya tahu beberapa teman masih sering ke Leeds untuk tujuan yang berbeda. Salam hangat dari Jogja.

*Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta