Bahasa Implikatur dalam al-Quran

Bahasa Implikatur dalam al-Quran

Oleh Dr. H. Mardjoko, M. Ag *

Istilah Implikatur ditemukan dalam kajian Pragmatik, ia adalah studi bahasa yang digunakan dalam komunikasi. Dalam beberapa buku disebutkan implikatur adalah adanya keterkaitan antara ujaran dari penutur dan lawan tuturnya. Keterkaitan itu tidak nampak secara literal, tetapi dapat dipahami secara tersirat.1 Konsep implikatur ini pertama kali dikenalkan oleh Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna yang tidak bisa diselesaikan oleh teori semantic biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah.2

Degan demikian, pengertian yang bisa diambil adalah implikatur memahami apa yang tersirat di balik tuturan yang tersurat. Implikatur ini hampir sama dengan gaya bahasa Kinâyah dalam ilmu Balaghah, yaitu tuturan yang diucapkan namun yang kehendaki adalah apa yang tersirat bukan yang tersurat.3

Gaya bahasa implikatur ini dapat ditemukan dalam al-Quran antara lain dalam ayat berikut;

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾

Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Menggigit tangan (jari) Maksudnya menyesali perbuatannya.4

Perhatikan penggunaan kalimat يعض (ya’adhu) yang berarti menggigit jari, benarkah orang-orang yang dhalim itu besuk di hari qiyamat menggigit jari mereka? boleh jadi iya, mereka menggigit jari, tetapi yang dimaksud dengan kalimat (menggigit jari) pada ayat tersebut adalah menunjukkan sikap menyesal, lantaran ketika hidup di dunia tidak menjalankan syariat agama islam.

Memahami perkataan yang tersirat itu dalam ilmu pragmatik dinamakan dengan gaya bahasa implikatur. Berikut contoh lain dalam ayat-ayat al-Qur'an.

قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا﴿٢٠﴾‏

Artinya: Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!".5

Perhatikan penggunaan kalimat يمسسنى (yamsasny) yang berarti menyentuhku, benarkah yang dimaksud kalimat menyentuh pada ayat tersebut menyentuh dalam arti yang sebenar-benarnya? boleh jadi iya, tidak ada seorang laki-lakipun yang menyentuh Siti Maryam, namun yang dimaksud dengan kalimat (menyentuh) pada ayat tersebut adalah melakukan hubungan seksual layaknya suami istri.

Berikut contoh lain dalam al-Qur'an terkait memahami perkataan yang tersirat di balik yang tersurat yang dalam ilmu pragmatik dinamakan gaya bahasa implikatur.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْۖ.... ﴿١٨٧﴾

Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.6

Perhatikan penggunaan kata الرفث (ar-rafatsu) yang berarti bercampur, benarkah yang dimaksud dengan bercampur pada ayat tersebut bercampur dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu duduk bersama antara suami istri? boleh jadi iya, benar suami istri itu bercampur duduk bersama di malam bulan ramadlan, namun yang dimaksud dengan kalimat (rafatsu) pada ayat tersebut adalah melakukan hubungan seksual antara suami istri.

Tentu masih banyak, contoh-contoh gaya bahasa implikatur yang lain. Gaya bahasa implikatur ini selain sebagai model percakapan, juga dimaksudkan agar tuturan yang disampaikan kepada lawan tutur lebih santun. Berdasar pada kaidah, semakin transparan sebuah tuturan semakin tidak santun, dan semakin tidak transparan semakin santun. Bahasa implikatur merupakan tuturan yang tidak transparan, maka akan lebih santun bagi lawan tuturnya, atau bagi pembaca dan pendengar-nya.

والله أعلم بالصواب

*Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

1 Abdul Chaer, Kesantunan Berbahasa, Jakarta: Rineka Cipta, 2021, p. 33.

2 Abdul Rani dkk, Analiss Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian, Malang: Bayumedia Publishing, 2006, p. 170.

3 Basyuni Abdil Fatah Fayud, Ilmu al-Bayân: Dirâsah Tahliiyah Limasâila al-Bayân, Cairo: 2004, p. 77.

4 QS. al-Furqân: 27

5 QS. Maryam: 20.

6 QS. al-Baqarah: 187.

Kolom Terkait