Dari “War Takjil” Menuju Diplomasi Kultural: Dosen BSA UIN Sunan Kalijaga Tampilkan Wajah Harmoni Indonesia di Forum Akademik Internasional Turki
Dari “War Takjil” Menuju Diplomasi Kultural: Dosen BSA UIN Sunan Kalijaga Tampilkan Wajah Harmoni Indonesia di Forum Akademik Internasional Turki
KILIS, TÜRKİYE – Praktik kehidupan harmonis masyarakat Indonesia kembali memperoleh perhatian komunitas akademik internasional. Assoc. Prof. Dr. Zamzam Afandi, dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mempresentasikan hasil risetnya dalam 4th International Symposium on The Practice of Coexistence in Islamic Culture yang diselenggarakan oleh Kilis 7 Aralık University, Türkiye, pada 7–9 Mei 2026. Simposium tersebut mempertemukan para akademisi, peneliti, dan pakar dari berbagai negara untuk mendiskusikan berbagai dimensi kehidupan bersama (coexistence) dalam peradaban Islam.
Dalam forum ilmiah yang dihadiri peserta dari Turki, Indonesia, Mesir, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, Malaysia, Lebanon, Irak, Uzbekistan, Spanyol, Aljazair, Kirgizstan, dan berbagai negara lainnya, Dr. Zamzam Afandi menyampaikan makalah berjudul:
Food, Faith, and Coexistence: The “War Takjil” Phenomenon and Interreligious Sociality in Contemporary Indonesia.
Makalah tersebut dipresentasikan pada Session 9 bersama sejumlah akademisi internasional, termasuk Prof. Noorhaidi Hasan dari UIN Sunan Kalijaga, dalam panel yang membahas praktik koeksistensi keagamaan di masyarakat kontemporer.
Berbeda dari pendekatan yang lazim mengkaji kerukunan antarumat beragama melalui perspektif kebijakan negara atau dialog formal antaragama, penelitian Dr. Zamzam mengangkat fenomena yang lahir dari budaya digital Indonesia, yaitu "war takjil". Fenomena yang sempat menjadi perbincangan luas di media sosial tersebut dianalisis sebagai bentuk interreligious sociality, yakni praktik interaksi sosial lintas agama yang tumbuh secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam paparannya, Dr. Zamzam menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat non-Muslim yang ikut berburu takjil selama bulan Ramadan bukan sekadar tren digital yang bersifat sementara. Di balik narasi humor dan viralitas media sosial, fenomena tersebut mencerminkan budaya hidup bersama yang inklusif, di mana ruang publik menjadi tempat bertemunya identitas keagamaan tanpa menghilangkan karakter masing-masing.
Menurutnya, pasar takjil di Indonesia telah berkembang menjadi ruang budaya (cultural space) yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial lintas komunitas secara cair, egaliter, dan penuh penghormatan. Dalam konteks tersebut, makanan tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi medium diplomasi sosial (social diplomacy) yang memperkuat kohesi masyarakat plural.
Pendekatan tersebut menawarkan perspektif baru kepada komunitas akademik internasional bahwa harmoni sosial di Indonesia tidak semata-mata dibangun melalui instrumen hukum atau kebijakan negara, melainkan juga tumbuh dari praktik-praktik budaya sehari-hari (everyday practices of coexistence) yang berlangsung secara organik di tengah masyarakat.
Melalui analisis terhadap wacana media sosial, praktik budaya populer, dan interaksi masyarakat di ruang publik, penelitian ini memperlihatkan bagaimana budaya digital justru dapat menjadi instrumen yang memperkuat nilai toleransi, solidaritas, dan kohesi sosial apabila dimaknai secara konstruktif.
Keunikan tema tersebut mendapat perhatian peserta simposium karena menghadirkan contoh konkret mengenai bagaimana fenomena digital lokal Indonesia mampu memberikan kontribusi terhadap diskursus global mengenai coexistence, pluralisme, dan kehidupan bersama dalam masyarakat multikultural.
Partisipasi Dr. Zamzam Afandi dalam forum akademik internasional ini sekaligus memperkuat posisi UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam percakapan ilmiah global. Kehadiran dosen BSA pada simposium internasional tersebut mencerminkan semakin kuatnya rekognisi akademik sivitas UIN Sunan Kalijaga dalam forum-forum ilmiah bereputasi dunia, sekaligus mendukung internasionalisasi institusi melalui publikasi dan diseminasi hasil penelitian pada tingkat global.
Keikutsertaan Dr. Zamzam Afandi dalam simposium ini menegaskan komitmen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga untuk terus mendorong dosen menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki relevansi lokal, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan dialog peradaban pada tingkat internasional. Melalui penelitian yang mengangkat realitas sosial Indonesia sebagai objek kajian ilmiah, Prodi BSA menunjukkan bahwa pengalaman kebudayaan Nusantara dapat menjadi referensi penting dalam membangun narasi global mengenai perdamaian, toleransi, dan kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.