Dari Scroll Menjadi Pengaruh: Prodi BSA Bekali Mahasiswa Strategi Media Sosial dan Social Branding Berbasis Nilai Edukatif
Dari Scroll Menjadi Pengaruh: Prodi BSA Bekali Mahasiswa Strategi Media Sosial dan Social Branding Berbasis Nilai Edukatif
Yogyakarta – Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa di era digital melalui kegiatan Pembinaan Potensi Kreatif Mahasiswa melalui Seminar Media Sosial dan Social Branding dalam Optimalisasi Konten Edukatif Gerakan Organisasi. Seminar yang diselenggarakan pada Rabu, 3 Juni 2026 di Ruang Teatrikal Lantai 1 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti oleh sekitar 50 peserta.
Antusiasme mahasiswa terhadap kegiatan ini sangat tinggi. Semula panitia hanya membuka kuota sebanyak 29 peserta, namun karena besarnya minat mahasiswa, jumlah peserta yang hadir meningkat hampir dua kali lipat. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran mahasiswa bahwa media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, melainkan ruang strategis untuk membangun gagasan, menyebarkan nilai, dan menggerakkan masyarakat melalui konten yang edukatif. Semangat ini sejalan dengan tujuan kegiatan, yaitu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola media sosial secara strategis, membangun social branding, serta menghasilkan konten edukatif yang berdampak bagi organisasi dan masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Dr. Habib, S.Ag., M.Ag. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa perkembangan media sosial harus direspons dengan kesiapan intelektual, etika, dan kemampuan membangun citra yang positif.
Menurut Kaprodi,
"Branding hari ini bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling tulus berdampak."
Kaprodi juga mengingatkan bahwa media sosial hanyalah sebuah panggung, sedangkan keberhasilan seseorang maupun organisasi ditentukan oleh konsistensi nilai yang dibangun.
"Media sosial adalah panggungnya, namun konsistensi nilai edukasi adalah magnet utamanya."
Lebih lanjut beliau menambahkan,
"Digital branding yang kuat tidak sekadar mencuri perhatian publik, melainkan merawat kepercayaan mereka."
Karena itu, mahasiswa sebagai generasi intelektual harus mampu menjadikan media sosial sebagai ruang edukasi, bukan sekadar ruang popularitas.
Beliau kemudian menutup sambutannya dengan sebuah pesan yang menjadi ruh kegiatan tersebut,
"Konten edukatif yang dioptimalisasi dengan baik adalah jembatan terbaik untuk mendekatkan idealisme organisasi dengan realitas pemuda hari ini."
Pesan tersebut memiliki keselarasan dengan ajaran Al-Qur'an. Allah Swt. berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl [16]: 125).
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah, komunikasi, maupun penyampaian gagasan hendaknya dilakukan dengan kebijaksanaan, argumentasi yang baik, dan pendekatan yang membangun. Dalam konteks media sosial, konten edukatif yang berkualitas menjadi salah satu bentuk implementasi prinsip tersebut. Hal ini juga sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw.:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan tersebut mengajarkan bahwa setiap konten yang dipublikasikan di ruang digital seyogianya membawa manfaat, memberikan inspirasi, serta menjaga etika komunikasi.
Seminar menghadirkan Wahyu Naufal, seorang penulis sekaligus filmmaker yang berpengalaman dalam produksi konten kreatif dan pengembangan media digital. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa media sosial telah mengalami perubahan fungsi yang sangat signifikan. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk scrolling dan mengonsumsi informasi, melainkan telah berkembang menjadi ruang strategis untuk membangun identitas, memengaruhi opini publik, serta menggerakkan komunitas melalui konten yang memiliki nilai edukatif.
Narasumber menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi di media sosial bukan ditentukan oleh banyaknya unggahan, tetapi oleh kemampuan membangun personal branding dan organizational branding yang konsisten. Menurutnya, setiap organisasi harus memiliki identitas yang jelas, pesan yang terarah, dan karakter komunikasi yang mudah dikenali masyarakat. Branding bukan sekadar membuat desain yang menarik, tetapi membangun kepercayaan publik melalui konsistensi nilai, kualitas konten, dan interaksi yang bermakna.
Ia juga menjelaskan pentingnya memahami karakter audiens sebelum memproduksi konten. Mahasiswa harus mampu mengenali siapa target yang ingin dijangkau, memilih bahasa komunikasi yang sesuai, serta menyampaikan pesan dengan pendekatan yang sederhana, relevan, dan mudah dipahami. Konten edukatif yang efektif adalah konten yang mampu memberikan solusi, menginspirasi, serta mendorong partisipasi masyarakat, bukan sekadar mengejar jumlah tayangan (views) atau tanda suka (likes).
Lebih lanjut, Wahyu Naufal mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan media sosial sebagai instrumen gerakan organisasi. Menurutnya, organisasi mahasiswa saat ini harus mampu menghadirkan narasi positif, menyebarkan informasi yang kredibel, serta membangun ruang diskusi yang sehat melalui berbagai platform digital. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana memperkuat literasi, memperluas jejaring, dan meningkatkan dampak sosial organisasi di tengah masyarakat. Penjelasan ini selaras dengan tujuan seminar, yaitu mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam membangun personal dan organizational branding, merancang konten edukatif yang komunikatif, serta memanfaatkan media sosial sebagai instrumen gerakan organisasi.
Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa aktif menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai strategi membangun identitas organisasi di media sosial, teknik menghasilkan konten yang menarik tanpa kehilangan nilai edukasi, hingga cara menghadapi tantangan algoritma media sosial yang terus berkembang. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa literasi digital telah menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun pengembangan diri.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Bahasa dan Sastra Arab berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga mampu menjadi produsen konten yang bertanggung jawab, kreatif, dan membawa nilai-nilai edukatif. Seminar ini menjadi bagian dari upaya Prodi BSA dalam membangun ekosistem literasi digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan pengaruh positif melalui ruang publik digital. Hal tersebut selaras dengan sasaran kegiatan untuk membangun kemampuan mahasiswa dalam mengelola media sosial secara strategis, menghasilkan konten edukatif, serta menjadikan media sosial sebagai sarana gerakan organisasi yang konstruktif. (Redaksi Prodi BSA)