Upgrading Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab

Prodi Bahasa dan Sastra Arab menyelenggarakan kegiatan dengan judul “Upgrading Dosen Bahasa dan Sastra Arab” pada tanggal 16 Desember 2021. Acara ini diselenggarakan secara bauran, yang berlangsung di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya dan melalui platform zoom. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin diselenggarakan dalam rangka meningkatkan wawasan dosen di bidang linguistik dan sastra. Prodi Bahasa dan Sastra Arab dalam kesempatan ini menghadirkan dua tokoh besar dalam bidang linguistik dan sastra. Pertama Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A dan kedua Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.

Sesi pertama, bertajuk sosiolinguistik. Dalam sesi ini, Guru Besar Linguistik UGM yang biasa dipanggil Prof. Putu memberikan motivasi kepada seluruh dosen BSA untuk selalu berkarya dengan membiasakan menulis terutama dengan menggunakan Bahasa asing. Selain itu, sebagai pengajar, dosen juga harus memperkaya pengetahuannya dan menambah leksikon dengan membaca novel Bahasa asing.

Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa Sosiolinguistik mengungkapkan Fenomena Bahasa yang berkaitan dengan sosial; di mana dia bertutur, bagaimana cara bertutur dan dengan siapa dia bertutur. Hal tersebut dikarenakan Bahasa merupakan refleksi Bahasa dan budaya, sehingga kerberadaannya di mana pun berada dapat dipengaruhi oleh sosial dan budaya. Banyak hal yang bisa dikaji melalui sosiolinguistik termasuk di antaranya bagaimana Bahasa Arab yang digunakan oleh orang Indonesia? Bagaimana Humor Arab? Bagaimana pribahasa dan Idiomatik Arab? Dan lain sebagainya. Di akhir pembicaraannya beliau menyampaikan bahwa ilmu Bahasa, bahkan satu kajian Bahasa saja tidak akan pernah selesai dipelajari, karena Bahasa senantiasa berkembang. Sehingga perlu motivasi yang sangat kuat untuk bisa mendalaminya.

Sesi kedua, bertajuk New Historicism dalam Kajian sastra oleh Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Beliau mengemukakan, bahwa sastra menjadi sebuah sejarah dari intelektual bangsa, sastra merupakan sebuah yang tidak terpisahkan dari dinamika perkembangan bangsa. Sastra merupakan media beroprasinya ideologi dominan. Media dan sastra tidak melakukan intervensi selama bertahun-tahun. Mereka cenderung melegitimasi ideology dominan. Media dan sastra merupkan medan tempat ideologi diartikulasikan, bekerja, ditansformasikan, dielaborasi. Sebagai penutup, Beliau menegaskan bahwa secara khusus, pendekatan ini memeriksa interdiskursivitas yang kompleks Antara domain diskursif berupa teks-teks sastra dan teks-teks nonsastra dengan perhatian penting pada unsur-unsur ideologi dan kekuasaan dalam interpretasinya.

Materi bisa diunduh melalui link berikut:

11_20211216_Dokumentasi Materi Upgradi Dosen 2021_Hitam putih.pdf (uin-suka.ac.id)