Puasa Pengayaan Cerdas Rohani

Puasa Pengayaan Cerdas Rohani

Oleh Prof. Dr. Bermawy Munthe, M.A.

Puasa satu proses pendidikan cerdas rohani selama ia ditambatkan kepada Tuhan. Puasa itu perbuatan memelihari diri dari makan, minum, dan seks dalam rentang waktu tertentu dan memelihara diri dari ucapan dan perkataan yang tidak hak. Paling tidak ada lima argumen mendukung pendapat di atas. Pertama, puasa mendorong pelakunya melakukan kesadaran diri (self-awareness) karena puasa mendorong pelakunya cerdas dan sadar pada apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi untuk kehidupan akhirat. Orang yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Juga, puasa dapat mendorong pelakunya mengenal posisi dirinya. Misalnya, apakah sedang atau akan dalam satu perjalanan ataukah tidak dalam satu perjalanan yang ia dimungkinkan untuk mengganti puasa pada hari lain. Bahkan, ia diminta sadar akan keadaan nyata dirinya apakah ia tidak mampu melakukan puasa sehingga ia wajib membayar fidyah kepada orang miskin. Itulah sebabnya puasa mendorong pelakunya sadar akan kekuatan diri dan kelemahan diri dan mengetahui cara bagaimana meningkatkan kelebihan diri dan tahu cara bagaimana mengurangi kelemahan diri khususnya tentang kesehatan diri.

Kedua, puasa sangat menyemangati pelakunya cerdas mengatur diri atau mengendalikan diri (self-regulation) karena puasa mendidik pelakunya mengembangkan pertanggungjawaban diri pada akhirnya kepada Tuhan. Bahkan, demi pertanggungjawaban diri pelaku hanya merasa takut kepada Zat Yang Mahakuasa. Itulah sebabnya puasa mendorong pelakunya terbiasa tertib waktu berbuka, tertib waktu makan sahur, tertib iftar, dan tertib menghindar diri dari perbuatan yang membatalkan puasa. Juga tertib mengatur diri dari penggunaan sesuatu yang halal, tetapi tidak sesuai tempus seperti makanan halal tidak tepat waktu. Salah satu tuntutan puasa adalah pengembangan kompetensi pengendalian diri fokus pada yang bermanfaat. Kata, frasa, dan kalimat yang keluar dari mulut diujarkan atau ditulis, semisal, di media sosial adalah hasil dari kompetensi pengandilan diri. Pada akhirnya puasa itu dapat menumbuhkan kepercayaan atau trust karena terbiasa memelihara norma kejujuran, integritas, dan nilai-nilai etis.

Ketiga, puasa menyemangati pelakunya untuk selalu menyusun target sasaran tertentu. Secara normatif, ibadah puasa memiliki target kompetensi, yaitu kualitas ketakwaan rasa kesalehan rasa untuk menaati semua perintah Tuhan dan menjauhi semua larangan-Nya. Secara tidak langsung ibadah puasa mendorong pelakunya membiasakan diri untuk selalu cerdas menentukan target jangka pendek dan target jangka panjang. Misalnya, pelaku puasa menyusun target jangka pendek berupa “memuasakan diri dari tidak akan menyampaikan informasi yang tidak jelas sumber, memuasakan diri dari hal-hal yang terliar, dan sebagainya.

Keempat, puasa sangat menyemangati pelakunya untuk selalu cerdas mengembangkan rasa empati pada hubungan dan kebutuhan orang lain dan atau makhluk lain. Ada ungkapan yang mengatakan siapa yang mencintai makhluk niscaya ia mencitai khaliknya. Perasaan lapar saat puasa oleh pelaku puasa khususnya pada saat jam makan sangat dapat membantu memahami orang (understanding others) lain yang kurang berkecukupan. Perasaan ini sangat menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan orang lain. Juga ibadah puasa sangat menyemangati pelakunya agar perduli untuk mengembangankan orang lain (developing others). Dengan proses berpuasa, pelaku puasa didorong untuk merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kekuatan orang lain.

Kelima, puasa menyemangati pelakunya untuk selalu cerdas secara sosial dalam pelayanan pengabdian masyarakat. Hal ini karena puasa bersinggungan dengan orang lain. Pada saat berkomunikasi pelaku puasa terdorong berlaku cerdas mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan. Keterampilan komunikasi ini sangat terasa saat pelaku puasa melaksanakan kewajibannya untuk menyalurkan zakat fitrah kepada al-mustahiq tanpa menyinggung perasaan perima zakat dan tanpa merendahkan perasaan al-mustahiq. Juga dengan puasa, pelakunya terdorong untuk menumbuhkan bangunan hubungan yang bermanfaat.

Akhirnya, dengan sinergitas lima kecerdasan rohaniah itu dapat dikatakan bahwa puasa merupakan satu proses pendidikan pengayaan cerdas rohani selama ia ditambatkan kepada Tuhan. Wallahu ‘alamu bi as-sawab.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler