Mengenang Berpuasa di Negara Kincir Angin, Belanda, 2008-2011
Mengenang Berpuasa di Negara Kincir Angin, Belanda, 2008-2011
Oleh Dr. Sujadi, M.A.*
Berpuasa di negeri orang dengan tanpa didampingi keluarga, saya kira, bukanlah hal yang diinginkan banyak orang. Namun, lakon hidup ini harus dijalani dan dinikmati dalam tanda kutip. Lakon ini sudah saya perankan ketika mengikuti program master di negeri yang sama selama dua tahun (1986-1988). Lakon yang terakhir ini, kata millenialist, kurang challenging. Kok, bisa? Ya, itu lebih karena pada waktu itu pemerannya masih belum berkeluarga. Maka, seakan tidak ada apa pun yang harus dipikirkan kecuali mengabari atau menelepon orang tua dan saudara-saudara di Indonesia.
Berbeda dengan ketika mengikuti program doktor, 2008-2011. Orang Belanda mengatakannya dat is moilejker dan vroeger toch (lebih sulit dari sebelumnya). Ya, memang begitu. Ini bukan tanpa alasan. Pertama, bagaimanapun memiliki keluarga meminta perhatian tersendiri karena persiapan anak-anak untuk berpuasa yang sebelumnya tidak pernah melatih diri berpuasa dan kesigapan orang tua, kadang harus, membangunkan mereka. Tentu, hal ini bukan hal sepele bagi yang menemani mereka di Indonesia yang harus menyiapkan makanan dan minuman sahurnya.
Bila yang pertama mungkin juga dialami oleh siapa pun yang meninggalkan keluarganya saat Ramadan. Namun alasan selanjutnya, saya merasakan tidak maksimal untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban saya sebagai mahasisawa program doktoral Universitas Leiden. Saya tidak bisa menulis hasil riset saya dengan baik. Apalagi riset keluar kota Leiden yang kadang harus naik bus selain naik kereta, ini hampir bisa dipastikan ditunda dulu. Ini karena pada saat itu puasa Ramadan di Belanda terjadi pada saat musim panas yang durasinya kurang lebih sembilas jam (dari 02.30-21.30). Pertama kali menjalaninya, saya sempat terpikir pertanyaan sanggup atau tidak menjalaninya. Namun, alhamdulillah qadarullah, saya bisa menjalaninya walau pada awal-awal Ramadan kepala sedikit tidak bisa diajak kompromi, agak pening.
Yang terakhir, topik riset menentukan untuk ber-Ramadan di negeri orang atau pulang ke Tanah Air. Saya riset tentang minortias muslim di Belanda. Oleh karena itu, hampir setiap Idulfitri, saya memutuskan ber-Idulfitri di Belanda. Ini untuk mendapatkan data refreshment terkait atmosfer penunjukkan ethnic Indonesian identities, networking dengan etnis lain, dan encouragement for giving untuk pembelian masjid dan bentuk-bentuk filantropi lain yang ditemukan di masjid-masjid Indonesia (baik di Den Haag, di Amsterdam yang terbagi dua di Ekingenstraat dan Badhovedorp, dan di Riderkerk).
Kondisi ketiga ini sedikit banyak mengobati saya kerinduan akan makanan khas Indonesia dan sekaligus suasana ke-Indonesiaannya. Bahkan, saya merasa mendapatkan keuntungan lain karena saya bisa merasakan makanan-makanan khas Nusantara seperti kebuli khas keturunan Arab Indonesia, rendang khas Padang, dan masakan-masakan khas Maluku yang jarang saya dapatkan, subhanallah. Demikian goresan-goresan singkat saya tentang sekelumit kenangan berpuasa di negeri Kincir Angin, semoga bermanfaat.
* Dosen Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta