Berpuasa di Bumi Para Nabi (Mesir)

Berpuasa di Bumi Para Nabi (Mesir)

Oleh : Dr. H. Mardjoko, M. Ag.*

Ajaran Islam, sebenarnya, secara normatif itu sama, di mana-mana tidak berbeda, hanya semangat melaksanakannya yang sering berbeda, antara satu negara dan negara yang lain. Saya ingin mengenang bagaimana umat Islam di Mesir mempunyai semangat tinggi dalam beragama utamanya “memberi takjil bagi orang berpuasa” yang dalam bahasa hadis disebut dengan “muth’imul-jî’ân”.

Pertama, pertemuan dengan Prof. Midhat Jayyar. Kami, para santri Rab’ah: Ustaz Taufiq Ahmad Dardiri (almarhum), Ustaz. Syihab, Ust. Munte, Kiai Habib, Mas Habib Kamil, dan Mas Ibnu, sekitar pukul sepuluh bertemu dengan Prof. Midhat Jayyar di Perguruan Tinggi al-Azhar cabang Zagazig, berbincang beberapa persoalan keilmuan, terutama terkait dengan perkembangan sastra Arab. Setelah selesai perbincangan, kami berpamitan. Prof. Midhat menawari kami buka bersama, karena jarak Pesantren Rab’ah (Cairo) dengan Zagaziq cukup jauh (165 km), kami mengatakan العفو يا دكتور عندنا موعد (maaf Duktur, tidak bisa, kami sudah punya janji). Prof. Midhat menjawab “Duktur yang mengundang antum makan tidak hanya saya, tapi semua dosen di Fakultas Sastra dan Budaya mengundang antum untuk makan bersama”. Jawaban kami sama (maaf Duktur, tidak bisa, kita sudah punya janji). Prof. Midhat menegaskan lagi “Duktur yang mengundang antum bukan hanya sevitas akademika Fakultas Sastra dan Budaya, tetapi semua sevitas di Perguruan Tinggi al-Azhar di Zagazig mengundang antum untuk makan bersama”. Sejenak kami saling memandang karena dilematik, perjalanan kembali ke Zagazig cukup jauh. Prof. Midhat berkata, “nanti makannya bukan di sini, saya yang akan meluncur ke Cairo, biar antum dekat”. Dipilihlah tempat di restoran terbuka Pasar Chon Chalili, depan Masjid Husein, tepatnya di belakang gedung al-Azhar Husein. Yang lebih nggumunke, sebelum kita kembali ke Cairo, Pof. Mithad menyodorkan kertas agar kami menulis apa yang nanti sore kami makan. Apa yang diingat kami tulis, ada nasi kuning, burung dara goreng, tha’mia, dan lain-lainnya. Yang tidak ketinggalan, kami juga belajar menghisab Syisya di pasar Chon Chlili juga dari Prof, Mithat, semua itu gratis.

Kedua, pertemuan dengan Prof. Daud. Ia adalah seorang ahli linguistik bahasa Arab. Pertemuan semula waktu pagi di Perguruan Tinggi Dâr-ulum, terus berlanjut pada sore hari di rumah beliau Pondok al-Quran. Sama, sebelum berpisah, Prof. Daud menyodorkan kertas kosong dan bilang “tulis apa yang akan antum makan nanti sore”. Kami menulis apa yang kami suka dan ingat, dari makanan terpilih, minuman segar, sampai cemilan. Sore hari kami datang di Pondok Alquran Prof. Daud. Kami mendiskusikan linguistik Arab, dilanjutkan buka bersama, salat berjemaah magrib, dan kemudian pamit kembali ke Pesantren Rab’ah. Yang juga menakjubkan, kami masih diberi buah tangan berupa buku-buku karya beliau dalam jumlah yang banyak, masing-masing satu dus besar. Segera kami mengucapkan “syukran ya Duktur”. Prof. Daud menjawab “el’af, el’af, el’af”.

Ada tradisi di Bumi Para Nabi tersebut yang berbeda dengan tradisi bangsa Indonesia. Jika telah berbuat kebaikan dan diucapi “syukran” maka jawabannya “el-af atau maaf”, biasanya diucapkan tiga kali, bukan “sama-sama” atau “padha-padha”.

Ketiga, perjalanan ke Qalyubi. Keberangkatan dari Cairo ke wilayah Qalyubi agak jauh, naik kereta bawah tanah. Dengan kecepatan tinggi, sampailah kami di Qalyubi dengan tujuan pembuatan sekaligus toko kristal atau ‘usfur’ terbesar di Mesir. Dari stasiun kereta ke pabrik kristal masih lumayan jauh, sekitar 3 km, kami jalan kaki. Pemandangan yang menakjubkan, antara lain, para penduduk yang berempat tinggal di pinggir jalan besar itu, hampir semuanya menyiapkan aneka minuman, dan buah-buahan di depan rumah, dan selalu menyapa siapa saja yang lewat dengan mengatakan “sabilillah’, maksudnya “mampir mas, berbuka di sini saja, gratis”. Karena waktu berbuka belum tiba, kami segera mengatakan “syukran”, dan begitu terus dalam perjalanan selalu disapa oleh para penduduk di sekitar jalan raya tersebut dengan sapaan “sabilillah”. Nah, ketika datang waktu berbuka, baru kami mampir, untuk berbuka semau dan sepuasnya, seperti biasanya kami mengatakan “syukran”, mereka menjawab “el’af, el’af, el’af”.

Begitulah saudara-saudara kita muslim di bumi para nabi itu mempunyai etos kerja yang luar biasa, dalam menyiapkan makanan untuk orang-orang yang berpuasa. Tidak aneh jika di setiap masjid terpampang tulisan besar MÂIDATUR-RAHMÂN, yaitu ajakan kepada muslim untuk berbuka bersama di masjid.

Hebat dan jazâkumullah Afdhalal-jaza’.

*Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler