Pergeseran Tradisi Lokal Menyambut Bulan Ramadan di Lampung

Pergeseran Tradisi Lokal Menyambut Bulan Ramadan di Lampung

Oleh Dr. Napsiah, M. Si.*

Bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh semua umat muslim di muka bumi ini karena bulan Ramadan memiliki keistimewaan. Pertama, bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran yang menjadi petunjuk hidup bagi umatnya dan penjelasannya membedakan mana yang benar dan yang batil. Kedua, bulan penuh keberkahan, setiap ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt.. Ketiga, malam Lailatul Qodar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu malam. Malam ini yakni 10 malam terakhir Ramadan merupakan malam turunnya Alquran. Keempat, bulan Ramadan adalah bulan pengampuanan dosa. Allah Swt. memberikan kesempatan pada umat-Nya untuk menghapuskan dosa-dosa selama umat-Nya menjauhi dosa besar. Kelima, bulan Ramadan adalah bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka. Oleh karena itu, Allah Swt. memberikan kesempatan seluas-luasanya untuk masuk surga dengan beribadah dan beramal salih selama Ramadan.

Kemuliaan Ramadan disambut oleh umat Islam di muka bumi ini dengan cara beragam bahkan telah menjadi tradisi bagi umatnya, salah satunya pada umat Islam Suku Lampung Way Kanan. Tradisi khuruk nyawor jejama (makan sahur bersama) adalah tradisi makan sahur bersama yang dilakukan pada sahur pertama di bulan Ramadan, dengan sesama muslim baik muslim penduduk lokal maupun muslim pendatang. Makan sahur ini dilakukan dengan cara mengunjungi satu rumah ke rumah berikutnya. Mereka berkumpul di masjid menuju ke rumah ketua adat dan para tetua adat Lampung. Apabila waktunya masih dimungkinkan, kunjungan akan dilakukan ke rumah-rumah muslim lainnya. Sehubungan dengan banyaknya rumah yang akan dikunjungi, maka jam kunjungan dan makan sahur dilakukan mulai pukul 01.30 WIB sampai memasuki waktu imsak.

Tidak ada menu khusus yang disajikan untuk menyambut Ramadan, selain menu harian khas Lampung, seperti menu yang terbuat dari bahan olahan ikan menjadi menu hidangan yang selalu ada untuk menyambut kunjungan para tamu yang akan makan bersama (nyawor jejama). Kunjungan ke rumah ketua adat dan para tetua adat menjadi kunjungan pertama dilakukan. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada para tetua adat. Selain itu, menyantap hidangan yang telah disediakan dengan sepuas-puasnya adalah bentuk penghargaan kepada tokoh adat. Dengan demikian, pengunjung merasa sudah kenyang, sehingga kunjungan berikutnya, ada di antara mereka tidak lagi makan sahur, tetapi hanya mengikuti kunjungan sampai waktu imsak, kemudian mereka kembali ke masjid untuk melakukan salat subuh berjemaah.

Bagi muslim Suku Lampung Way Kanan, tradisi khuruk nyawor jejama (makan sahur bersama) memiliki makna, yaitu menghilangkan stratifikasi sosial. Tidak ada orang yang dianggap kaya atau miskin, tidak ada orang yang tinggi derajatnya atau sebaliknya dan juga tidak ada orang yang dianggap terhormat atau tidak terhormat. Semua manusia sama kedudukannya, yakni sama-sama mahkluk Allah Swt. yang akan menjalankan ibadah puasa. Dengan demikian, persaudaraan terbangun kuat dan tidak ada kecemburuan sosial yang akan merusakan suasana ibadah pada bulan Ramadan. Ketenangan dan khusuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan lamanya untuk memperoleh keberkahan, pengampuanan dosa, membuka pintu surga, dan merasakan malam yang lebih baik dari seribu malam (lailatul qodar), yang merupakan keistimewaan bulan Ramadan. Tujuan tersebut adalah makna tradisi lokal pada suku adat Lampung.

Seiring dengan perubahan yang terjadi di masyarakat Lampung karena masuknya teknologi, berpengaruh pada tradisi lokal tersebut. Tradisi khuruk nyawor jejama (makan sahur bersama) tidak lagi dilakukan. Namun, tradisi tersebut dimodifikasi dengan cara membawa takjil dari rumah masing-masing untuk disantap pada saat berbuka puasa di masjid terdekat. Sejak jam 16.00 WIB setiap muslim lampung memberikan takjilnya ke masjid terdekat untuk disantap bersama di masjid setelah berbuka puasa. Meskipun ada pergeseran tradisi yang semula dilakukan dari rumah ke rumah menjadi dari rumah ke masjid dan waktunya bukan lagi di malam hari namun di sore hari, maknanya bagi muslim Lampung sama yaitu menghilangkan stratifikasi sosial pada masyarakat muslim Lampung. Dengan demikian, persaudaraan semakin kuat dan menciptakan rasa aman untuk menjalankan dan memperoleh keistimewaan bulan suci Ramadan.

Tampaknya tradisi memberikan takjil di masjid sementara ini tidak bisa dilakukan karena pendemi Covid-19 ada kebijakan social distancing dan physical distancing yang menghendaki muslim menjaga jarak. Sehubungan dengan itu, masjid tidak lagi tempat berkumpulnya warga muslim untuk makan takjil bersama. Masjid hanya dibuka pada waktu-waktu salat wajib dan salat taraweh dengan menggunaan protokol kesehatan seperti menjaga jarak. Bahkan, sebagian umat Islam Lampung menjalankan salat di rumah karena masih khawatir adanya penularan Covid-9 terlebih belum semua warga mendapatkan vaksin Covid-19. Sehubungan dengan itu, tradisi menyambut bulan Ramadan, khususnya di Lampung, mengalami dinamika, sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi. Walaupun demikian, umat muslim Lampung sama dengan umat muslim lainnya menyambut bulan puasa penuh dengan suka cita untuk meraih keistimewaan bulan Ramadan.

* Dosen Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler