Menjadi Juru Bahasa Rombongan Raja Salman, Sebuah Catatan Pengalaman
Menjadi Juru Bahasa Rombongan Raja Salman, Sebuah Catatan Pengalaman
Oleh:Jalaluddin Tapaul Jahidin*
Siapapun akan bangga menjadi salah satu penerjemah langsung (juru bahasa) bagi rombongan (delegasi) Raja Salman dari Kerajaan Arab Saudi. Raja Arab Saudi kembali mengunjungi Indonesia setelah 47 tahun. Sebelumnya, Raja Faisal bin Abdulaziz mengunjungi Indonesia pada tahun 1970. Raja Salman bin Abdulaziz sebagai penerusnya mengulang sejarah yang terjadi hampir setengah abad lalu.
Menerjemahkan langsung ucapan salah satu delegasi kerajaan sangat membutuhkan ketelitian, apalagi saya bertugas sebagai penerjemah untuk staf salah satu dari 19 pangeran Kerajaan Arab Saudi. Di samping penguasaan kosa-kata bahasa Arab juga dibutuhkan kepekaan untuk membaca bahasa tubuh yang didampingi. Waktu itu staf pangeran senang dengan urusan terkait bisnis, maka saya harus konsentrasi mendampingi beliau mengalihbahasakan urusan bisnis yang terkadang erat kaitannya dengan bisnis wisata.
Apakah juru bahasa punya etika dalam pendampingan? Sudah pasti ada aturan ketat seperti tidak boleh memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi seperti minta nomor telepon, foto bersama dan lain-lain. Termasuk juga aktif dalam menerjemah tetapi pasif dalam rasa ingin tahu, karena juru bahasa tidak boleh bertanya terkait hal pribadi selain urusan pendampingan terjemah. Walau hanya mendapatkan jatah satu hari menjadi juru bahasa tersebut, namun sangat berkesan karena sebulan sebelum kedatangan delagasi Raja Salman, kami sudah mempersiapkan diri dalam segala hal baik mental maupun pengasahan bahasa.
Kembali pada pokok pembahasan yang telah disebutkan di awal tulisan, saat melakukan penjurubahasaan konsekutif, terkadang mengalami beberapa kesulitan. Pertama, salah menangkap pesan. Hal itu terjadi karena sang pembicara salah mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Arab yang menyebabkan makna bergeser.
Tentu saja juga harus lebih banyak berlatih. Selain itu, sebelum melakukan penjurubahasaan, saya harus melakukan riset tentang tema yang akan dibicarakan dan siapa yang akan menjadi pembicara, dalam kesempatan ini,keluarga besar Karajaan Arab Saudi menjadi pembicara yang harus kami dampingi.
Kebanggaan lainnya adalah para keluarga kerajaan tatkala didampingi hampir 100% menggunakan bahasa Arab Fushha modern, beda tatkala saya menjadi penerjemah pengusaha Arab sebelumnya yang tidak resmi bersama delegasi negaranya, bahasanya seringkali bercampur bahasa Arab 'ammy (dialek/logat) yang sering digunakan sehari-hari. Keuntungan selanjutnya disamping mendapat pengalaman berbahasa kita mendapatkan ilmu etika bertarap internasional sesuai ciri khas negara terkait.
Pada waktu Raja Salman berada di Indonesia dari 1-12 Maret 2017 bersama 19 pangeran ditambah 1500 orang pendamping langsung dari kerajaan. Maka otomatis membutuhkan setidaknya minimal 3.040 juru bahasa Arab dengan asumsi tiap satu tamu didampingi 2 penerjemah langsung, karena harus bergantian waktu. Ini adalah peluang besar dan akan selalu dibutuhkan
*Direktur Jalfad Interpreter dan Alumnus Bahasa dan Sastra Arab FADIB UIN Sunan Kalijaga