Sepenggal Cerita Ramadan di Kota Fayetteville, Arkansas, Amerika Serikat

Sepenggal Cerita Ramadan di Kota Fayetteville, Arkansas, Amerika Serikat

Febriyanti Dwiratna Lestari, S.S., M.A.*

Walaupun penganut agama Islam hanya sekitar 1,4% dari total populasi penduduk Amerika, muslim di negeri Paman Sam tersebut tetap antusias menyambut bulan suci Ramadan. Seperti halnya saya sebagai salah satu mahasiswa internasional harus melewati 5 kali Ramadan di Fayetteville, Arkansas, Amerika Serikat yang kebetulan jatuh pada musim panas. Berpuasa saat musim panas agak sedikit lebih menantang terutama karena durasi dan suhu udaranya. Saat musim panas, siang hari lebih panjang daripada malam hari dikarenakan belahan bumi tersebut sedang condong ke arah matahari sehingga terpapar sinar lebih banyak. Jika Ramadan jatuh pada musim panas, durasi puasa muslim di Amerika bisa sampai 15 jam karena imsak sekitar jam 5 pagi sementara iftar sekitar jam 20:00 saat matahari terbenam. Saat musim panas, suhu udara di daerah tengah seperti Arkansas saat siang hari bisa mencapai 35 derajat Celsius, sehingga kita disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan ber-AC untuk menghindari resiko heat stroke. Namun jika yang sedang berpuasa harus melakukan aktivitas outdoor, tentu hal ini akan membuat tenggorokan terasa semakin kering.

Terlepas dari masalah durasi dan suhu udara, pengalaman saya menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadan di Amerika cukup khidmat dan berkesan. Di satu sisi jauh dari keluarga merupakan tantangan tersendiri, tetapi di sisi lain banyak sekali pengalaman berharga yang diperoleh dari pengalaman Ramadan sebagai muslim minoritas dan terutama kesempatan mengenal muslim dari belahan negara lain. Tidak seperti di Indonesia, Islam adalah agama mayoritas, soundscape Ramadan di ranah publik tentu saja hampir tidak ada. Kita harus cek mandiri di handphone kapan imsak, waktu salat, dan waktu berbuka. Di siang hari kita juga tetap harus melakukan aktivitas seperti hari biasa. Café dan kantin tetap ramai oleh mahasiswa nonmuslim. Menjelang berbuka juga tidak ada jajanan khas Ramadan dan suasana ramai anak muda ngabuburit. Tentu saja kondisi ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Akan tetapi posisi minoritas justru membuat kita semakin fokus dengan keyakinan kita dan lebih berempati kepada kelompok minoritas lain.

Satu-satunya suasana khas Ramadan yang bisa dirasakan adalah ketika iftar dan tarawih di masjid atau lebih tepatnya NWA Islamic center yang berlokasi di area kampus. Selama Ramadan warga muslim dari berbagai negara seperti Arab Saudi, Bangladesh, Indonesia, Jordan, Iran, dan lain-lain secara bergiliran menyediakan masakan berbuka untuk disantap bersama saat iftar. Menu yang selalu ada tiap hari adalah nasi, ayam, dan sayuran. Cara memasaknya tentu bisa beragam, tetapi menu yang familiar untuk semua orang adalah nasi ayam biryani dan salad sayur. Alhamdulillah, masakan Indonesia termasuk salah satu menu yang disukai oleh jemaah masjid. Menjelang berbuka, jemaah masjid dengan sukarela menggelar taplak plastik untuk meletakkan makanan dan minuman supaya tidak mengotori masjid. Area laki-laki dan perempuan terpisah. Saat iftar, semua jemaah berdoa dan berbuka bersama dengan kurma, kue, dan air putih. Kemudian diikuti dengan salat magrib berjemaah. Selepas salat magrib, jemaah baru menyantap hidangan utama sambil berbincang-bincang satu sama lain, sebelum dilanjutkan dengan salat isya dan tarawih berjemaah.

Jemaah masjid rata-rata terdiri dari keluarga muslim migran yang memang menetap di Amerika, sedangkan selebihnya adalah mahasiswa internasional yang datang silih berganti sesuai masa studi. Di Fayetteville mayoritas muslimnya adalah Sunni. Jemaah shiah wanita biasanya ketika salat memilih di belakang karena sedikit berbeda. Karena jumlahnya sedikit, biasanya warga muslim di kota kecil ini saling mengenal satu sama lain. Pada masa pemerintahan Presiden Trump terdapat kasus hate speech dan Islamophobia sempat meningkat, kadang masjid saat jam tarawih dan idul fitri dijaga oleh sherrif dan polisi setempat untuk menjamin kenyamaan beribadah umat muslim.

Walaupun secara umum masyarakat Amerika biasanya tidak mengetahui sedang berlangsungnya Ramadan, akan tetapi organisasi mahasiswa muslim kampus biasanya aktif mengadakan event untuk membuka wawasan masyarakat nonmuslim terkait Islam termasuk tradisi di bulan Ramadan. NWA Islamic Center selalu terbuka bagi warga nonmuslim yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam dan terutama suasana Ramadan. Sesekali perwakilan kelompok Gereja ataupun Sinagog datang mengunjungi masjid untuk berbincang-bincang dan merasakan langsung suasana Ramadan bersama warga muslim setempat. Secara keseluruhan warga nonmuslim di Fayetteville, Arkansas, cukup toleran dan terbuka dengan keberagaman agama, etnik, dan budaya. Hal ini membuat kota Fayetteville serasa menjadi rumah kedua bagi siapa pun yang mengunjunginya.

*Dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler