Tarawih di Kampung Smokel Tahun 1970-an
Tarawih di Kampung Smokel Tahun 1970-an
Oleh Drs. Mustari, M.Hum.*
Jika di-searching di Wikipedia dengan kata kunci “Pengudang”, akan muncul informasi singkat, “Pengudang merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia”. Hanya itu. Namun, jika penelusuran dialihkan ke mesin pencarian, akan muncul banyak link informasi yang berkaitan dengan pesona alam pantai Pengudang yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.
Sebagai generasi yang lahir pada penghujung 1960, banyak hal yang dapat diceritakan tentang desa ini, yang pernah memegang peranan penting pada saat smokel (penyelundupan; perdagangan gelap) masih merajai perdagangan di Pulau Bintan. Singapura adalah tujuan utama para pe-smokel. Hulu sungai Pengudang yang disebut Conteng (bahasa Cina = hulu sungai tempat memuat barang-barang ke perahu) menjadi tumpuan bagi para pe-smokel untuk memuat komoditas gambir dan karet, sementara kopra dimuat di pantai atau di kuala sungai. Betapa ramainya Conteng kala itu. Sebenarnya banyak desa di sepanjang garis pantai utara pulau Bintan yang menjadi titik tolak pe-smokel, tetapi Pengudanglah yang paling diminati karena keadaan geografisnya yang tidak memungkinkan kapal-kapal patroli bea cukai mengejar sampai ke pantai. Oleh karenanya, tidak heran jika Pengudang menjadi tujuan banyak perantauan dari penjuru nusantara: Bugis, Selayar, Flores, Buton, Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Batak, tumplek-plek di desa Pengudang. Mereka berbaur dengan penduduk asli Pengudang: Melayu.
Aku dan beberapa teman sebayaku sangat akrab dengan para tekong smokel. Setiap kali motor-boat mereka merapat dari Singapura, aku selalu mendapat oleh-oleh roti prancis, roti tawar, roti manis, apel, sunquist, anggur, minuman limun, merdon (pada saat Ramadan), dan lain-lain.
Tahun 1968, aku masuk SD, karena di Pengudang tidak ada sekolah, aku merantau ke desa Berakit, berjarak kurang lebih 20 km, dan tinggal di rumah pamanku. Saat yang paling ditunggu-tunggu adalah bulan Ramadan. Orang-orang Melayu menyebutnya Bulan Puasa, sementara orang Bugis menyebutnya Uleng Ramalang, lalu menjadi kata kerja maddamalang (melakukan kegiatan-kegiatan khas bulan Ramadan). Ramadan adalah liburan sekolah, maka maddamalang di kampung halaman di desa Pengudang menjadi wajib. Maddamalang tahun 1970-an selalu hampir bersamaan dengan Perayaan Imlek (Tahun Baru Cina), yang identik dengan musim angin dan ombak yang membuat pantai utara pulau Bintan seperti TPA raksasa dengan timbunan sampah laut dan limbah “kiriman” dari Singapura dan Malaysia yang dibawa arus dan ombak lautan. Tidak jarang yang terdampar di pantai adalah barang-barang berharga seperti minyak olie berdrum-drum, karet berton-ton, papan berkubik-kubik, rokok merk luar negeri berbal-bal, ransum makanan kaleng tentara berpeti-peti, ganja berkakrung-karung, peluru berpeti-peti, bahkan pernah juga ditemukan sosok mayat.
Masjid Nur as-Sa’diyah, satu-satunya di desa Pengudang waktu itu—sampai sekarang—menjadi pusat ibadah orang kampung dan kampung-kampung sekitar yang tidak memiliki masjid. Jangan bayangkan masjid modern, tetapi bayangkanlah surau dalam cerpen “Robohnya Sura Kami” karya AA Navis. Bertiang kayu, berlantai dan berdinding papan, beratap seng yang selalu karatan kena tempias air laut, berpenerangan lampu strongkeng/petromak. Jika jamaah sedang sujud, akan terdengar irama serentak bunyi lutut beradu dengan lantai papan. Tapi bagi kami, anak-anak, sholat taraweh identik dengan ajang bergurau yang menyenangkan, sementara orang-orang dewasa sepertinya memberi toleransi kepada kami. 23 rakaat dengan bacaan yang cepat, salat taraweh menjadi sangat singkat. Yang lebih menghibur ketika prosesi tarawih sudah selesai. Imam duduk bersila menghadap makmum sambil memejamkan mata lalu membaca ratib dengan irama bergelombang sambil bergerak, ngesot tanpa arah. Semua makmum mengikuti imam, juga sambil ngesot sehingga lutut-lutut mereka saling beradu. Kami anak-anak paling senang dengan moment ini karena bisa beradu lutut dengan teman-teman.
Ada tanggal-tanggal Ramadan yang selalu kami nanti, yaitu 15 Ramadan ketika imam mulai membaca doa kunut pada setiap rakaat terakhir salat witir. Pada malam tersebut jemaah membawa kue untuk disantap bersama setelah selesai acara ratib. Malam yang menyenangkan bagi kami, anak-anak, adalah malam 21 Ramadan ketika memulai penantian lailatul qadar, jalan menuju masjid dihiasi dengan obor minyak tanah sehingga suasana di sekitar masjid menjadi semakin semarak dengan liuk-liuk api obor yang ditiup angin utara. Sejak malam itu hingga malam takbiran, jemaah akan rutin membawa makanan ke masjid untuk disantap bersama.
Para tekong smokel tidak kalah perannya dalam memeriahkan malam-malam tarawih kami. Merekalah pemasok mercon dari Singapura. Semakin mendekati hari lebaran permainan mercon kami semakin semarak. Tapi jangan bayangkan mercon sebesar-besar paha. Mercon kami hanya seukuran jari kelingking yang selalu dijadikan alat menggoda teman-teman yang takut jika dilempari mercon. Selebihnya adalah meriam bambu.
TV masih menjadi barang mewah di kampung Pengudang. Belum ada penduduk yang sanggup membelinya. Namun pada saat musabaqah tilawatil quran tingkat antarabangsa yang rutin diadakan tiap bulan Ramadan di Kuala Lumpur, Malaysia, ayahku selalu berusaha menyewa TV hitam putih 12 inci dan akinya dari orang Cina yang akan dipasang di halaman rumahku. Ayahku adalah guru ngaji dan pengagum Hj. Ismail Hashim juara qori antarabangsa delapan kali 1963, 1965, 1966, 1969, 1970, 1971, 1974, dan 1975. Murid-murid ayahku khusyuk menonton tilawah para peserta di TV, sedangkan kami, anak-anak lebih suka jajan kue yang dijual di sekitar area. Itulah sekelumit kisah Ramadan di Kampung Smokel Tahun 1970-an untuk mengenang masa kecilku.
* Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Email: mustari@uin-suka.ac.id