Sekilas Catatan Ringan Islam dan Ramadan di Kanada

Sekilas Catatan Ringan Islam dan Ramadan di Kanada

Oleh Muhammad Izzul Haq, S.Sos., M.Sc*

Dengan luas 9,98 juta kilometer persegi yang notabene 5 kalinya Indonesia, Kanada merupakan negara terbesar kedua di dunia setelah Rusia dari segi wilayah. Sebagai negara monarki konstitusional yang memiliki dua bahasa resmi, Inggris dan Prancis, Kanada yang beribukotakan Ottawa merupakan pionir negara Barat pertama yang mengadopsi multikulturalisme sebagai kebijakan nasional sejak 1971.

Dalam bingkai multikulturalisme yang menampung keragaman etnis, budaya, dan agama penduduknya, Islam saat ini telah menjadi agama kedua terbesar di Kanada. Keramahan terhadap imigran dan keterbukaan terhadap pengungsi menjadi ciri khas Kanada, yang tiap tahun keluarkan anggaran rutin untuk mensponsori pengungsi datang ke negeri itu.

Perkembangan populasi muslim di negara empat musim ini terus menggeliat. Islam pertama kali datang di Kanada pada tahun 1854. Menurut sensus pertama tahun 1870 tercatat jumlah muslim hanya ada 13 orang. Islam terus berkembang di Kanada. Hal ini terlihat pada sensus terakhir pada tahun 2011 jumlah muslim telah mencapai 1,053,945 atau 3,2% dari populasi Kanada. Adapun sensus terdekat baru akan dimulai Mei 2021.

Berbagai jenis denominasi Islam juga tumbuh berkembang, terlindungi satu sama lain dalam naungan sekulerisme Kanada, ada Sunni yang mayoritas, begitupula minoritas Syiah, baik kelompok Itsna Asy’ariyah maupun Isma’iliyah, dan juga aliran Ahmadiyah, semuanya eksis berdampingan.

Saat ini, Kanada sedang memasuki musim semi, durasi waktu puasa di Kanada bergerak dari pendek menuju panjang. Sebagai ilustrasi di awal Ramadan, 13 April silam, waktu subuh Montreal dimulai pukul 04.50, magrib 19.30 dan isya 20.50, adapun nanti pada akhir Ramadan pada 13 Mei, waktu subuh akan maju menjadi 03.45, sedangkan waktu magrib mundur menjadi 20.15 dan isya 21.50.

Tahun ini merupakan kali kedua Ramadan di Kanada di tengah pandemi korona dengan cerita yang sedikit berbeda. Tahun sebelumnya bulan puasa jatuh bertepatan dengan puncak gelombang pertama Covid-19, respons yang ditunjukkan oleh pemerintah adalah lockdown setelah WHO mengumumkan pandemi. Imbasnya, segala aktivitas berkumpul termasuk kegiatan keagamaan dikekang. Tempat ibadah termasuk masjid ditutup mulai 13 Maret 2020. Ramadan dan Lebaran pada waktu itu dilaksanakan dalam suasana kebatinan penuh keprihatinan dan kewaspadaan, dan segala perhelatan kegiatan Ramadan dan Idul Fitri digelar secara virtual. Masjid dan tempat ibadah lainnya baru dibuka dengan pembatasan mulai Juni 2020.

Untuk Ramadan tahun ini, pada saat optimisme mulai berkembang seiring dengan vaksinasi yang terus digencarkan, masjid sudah dibuka dan dibolehkan beraktivitas dengan mengikuti protokol kesehatan. Jemaah wajib mengenakan masker dan mencuci tangan dengan handsanitizer yang disediakan di pintu masuk masjid. Disiapkan pula kertas untuk alas sujud jemaah. Selain itu, kapasitas per ruangan hanya dibatasi untuk maksimal 25 jemaah saja sekali waktu. Jika sebuah bangunan masjid memiliki 4 ruang, masjid tersebut bisa diisi hingga 100 jemaah. Bagi yang akan salat Jumat, jemaah diminta mendaftar terlebih dahulu dengan mengisi form online di laman Facebook masjid tersebut. Khusus di propinsi Quebec, yang sejak awal pandemi hingga sekarang menjadi penyumbang kasus covid tertinggi se-Kanada dengan hotspot-nya di Montreal, diberlakukan jam malam (curfew) dari pukul 20.00 sampai pukul 05.00 dan polisi melakukan patroli untuk mengawasinya.

Hingga tulisan ini disusun, jam malam yang ditetapkan pada Januari 2021 itu masih ditegakkan, dan sanksi denda sebesar $1500 bagi pelanggar masih diterapkan. Dalam rangka menaati aturan jam malam tersebut, untuk sementara layanan masjid ditutup setelah asar. Tak ayal, buka bersama (iftar) yang dulu selalu jadi agenda masjid pun ditiadakan. Salat magrib dan isya berikut salat Tarawih diselenggarakan di kediaman masing-masing. Demikian pula untuk salat subuh.

Meski terkendala aturan pembatasan fisik, upaya merajut spirit kebersamaan dengan jemaah tetap diupayakan. Beberapa masjid menggelar kegiatan secara virtual, seperti siaran pengajian maupun aktivitas game/sport via Zoom. Ada juga masjid di downtown Montreal seperti Al Madinah yang berdekatan dengan kampus Concordia University, dan masjid As Salam yang tidak jauh dari kampus McGill University, kedua masjid tersebut bekerja sama dengan Islamic Relief Canada dalam pembagian paket takjil berbuka.

Untuk komunitas muslim Indonesia di Kanada, khususnya dari tiga kota berdekatan: Montreal, Ottawa, dan Toronto, dalam menyemarakkan Ramadan 1442 Hijriah ini, komunitas Syiar Montreal, Pengajian Ottawa dan MIIT (Masyarakat Islam Indonesia Toronto) menggelar pengajian kolaboratif rutin tiap akhir pekan, Jumat dan Sabtu sore, dengan tajuk Ramadan Tiga Kota dengan menghadirkan narasumber atau penceramah dari tanah air.

Respons pemerintah federal sejauh ini cukup apresiatif terhadap momen bulan Ramadan. Sebagaimana bisa dipantau dari laman twitter, rutin setiap tahun sejak menjabat sebagai Perdana Menteri pada 2015, Justin Trudeau selalu menyapa warga muslim Kanada dengan mengucapkan “Ramadan Mubarak” pada awal puasa dan pada akhir Ramadan juga mengucapkan sambutan jelang Idulfitri.

Kanada saat ini mulai berbeda, untuk pertama kalinya dalam sejarah kabinet pemerintahan federal, ada tiga anggota parlemen muslim yang diangkat sebagai menteri dalam kabinet PM Justin Trudeau dari Partai Liberal. Uniknya, ketiga Menteri ini semuanya imigran yang lahir di luar Kanada. Ada Maryam Monsef dari Afghanistan, Ahmed Hussen dari Somalia, dan Omar Alghabra dari Syria. Sementara itu, Kanada merupakan satu-satunya negara demokrasi sekuler Barat yang memiliki Hari Nasional Aksi Menentang Islamofobia yang ditetapkan pada tanggal 29 Januari, bertepatan dengan peringatan 4 tahun tragedi penembakan masjid di Quebec City pada 29 Januri 2017.

Suasana Ramadan di Kanada yang berbeda akibat pandemic Covid-19 beresonansi dengan situasi demografi dan politik Kanada yang semakin berbeda. Situasi yang perlahan mulai mengakomodasi aspirasi umat Islam di Kanada terus berkembang dan memfasilitasinya untuk mengisi ruang publik, sekaligus situasi yang memberikan tantangan terhadap Islam untuk terus mewarnai dan sebagai rahmatan lil-alamin dalam konteks negara multikultural Kanada.

* Dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah & Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Mahasiswa Doktoral di McGill University, Canada.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler