Arab Spring dan Sastra Arab

Arab Spring dan Sastra Arab

Oleh Dr. Moh. Wakhid Hidayat, S.S., MA.

"الشعر ينبغي أن يكون في مستوى الحدث، وإلا فالصمت أفضل"

(Puisi selayaknya selaras dengan peristiwa, jika tidak maka diam lebih utama)

Walaupun Arab Spring atau dalam istilah arabnya الربيع العربي telah berlalu 13 tahun yang lalu, tetapi istilah ini masih menarik untuk didiskusikan, khususnya jika dikaitkan dengan karya sastra yang berkembang dalam merespon peristiwa tersebut. Arab Spring itu sendiri adalah peristiwa besar yang terjadi di negara-negara Arab yang terjadi mulai tahun 2011 di Tunisia kemudian menyebar ke berbagai negara Arab. Terkait istilah Arab spring yang dikenal di Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris “Arab Spring”, yang istilah berbahasa inggris ini, menurut Josep Massad dalam artikelnya di al-Jazera tahun 2012, dicetuskan pertama kali oleh Jurnal Amerika Foreign Policy, dan menurutnya istilah ini sarat kepentingan Amerika untuk mengontrol dunia Arab. Tidak memperpanjang asal-usul istilah ini, peristiwa Arab spring ini pertama kali muncul di Tunisia dan merupakan gelombang protes masyarakat terhadap penguasa Zine El Abidine Ben Ali yang telah berkuasa kurang lebih 30 tahun dari 1987-2011. Protes masyarakat ini dipicu oleh aksi membakar diri Mohamed Bouazizi, seorang pemuda yang sehari-hari menjadi penjual buah keliling. Protes Bouazizi ini karena ketersinggungannya setelah terkena razia oleh seorang polisi perempuan. Aksi membakar diri ini kemudian diunggah di medsos dan terjadilah gelombang protes di jalanan, protes berakhir dengan turunnya Presdien Zine El Abidine Ben Ali. Peristiwa Arab spring Tunisia ini kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai negara-negara Arab lainnya pada tahun 2011, seperti di Mesir, Lybia, Yaman, Suriah, dan terjadilah kekacauan yang diakhir dengan turun tahtanya presiden masing-masing negara atau memicu perang antara oposisi dengan pemerintah.

Tentu peristiwa besar ini memantik para sastrawan di berbagai penjuru dunia Arab untuk mendokumentasikannya dalam karya-karya seni kreatif mereka, apakah dalam genre puisi atau karya prosa seperti cerpen, novel atau esai-esai. Kutipan perkataan dipembuka esai ini di atas adalah perkataan Jarjis Syukri (1967-) Penyair Mesir, yang dikutip oleh Riam an-Najmiy dalam website Qantara berjudul “ma Huwa Dauru asy-Syi’ri fi ats-tsaurah al-arabiyyah?” terbit tahun 2012. Puisi Jajis Syukri tersebut menarik karena agak provokatif yang bisa dipahami maknanya, bahwa karya sastra seharusnya menyuarakan peristiwa-peristiwa disekitarnya, dan jika karya sastra “buta” terhadap peristiwa sekitarnya maka sebaiknya tidak perlu ada.

Zahrah Marwah dalam artikel al-Jazeranya tahun 2012, satu tahun pasca arab spring 2011, menulis tentang penyair Palestina (1972-Now) Samir Abu Hawasyh yang merekam suasana arab spring dalam diwannya “Saufa Aqtulka ayyuha al-maun”. Menurut Zahrah, Abu Hawasy terilhami dari orang-orang yang berdemonstrasi di jalan dengan membawa spanduk “asy-Sya’bu Yuridu Isqat an-Nadzam” (Bangsa menginginkan pergantian sistem). Dalam diwan tersebut, Abu Hawash menuliskan bagimana demonstrasi dijalanan menyuarakan pergantian sistem pemerintahan dan juga seklaigus para demonstran ini mendapatkan ancaman kematian karena pasukan pengamanan pemerintahan yang sangat kuat.

Muhammad Affan dalam artikelnya yang berjudul “Arab Spring dalam Sastra Arab: Ekspresi dan Representasi” mengulas berbagai karya sastra yang mengangkat peristiwa Arab Spring, diantara yang disebut adalah novel Ath-Thabur (Antrean) karya Basmah Abd al-Aziz yang terbit tahun satu tahun setelah Arab Spring terjadi yaitu 2012. Dalam review Affan, novel ath-Thabur yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “antrian” ini menceritakan masyarakat yang harus meminta izin untuk segala aktifitas hariannya melalui pintu gerbang yang sengaj dibangun pemerintah setelah aksi demonstrasi besar-besaran di Medan Tahrir (nama ini ada di Mesir). Prosedur periizinan ini mengakibatkan adanya antrian dimasyarakat yang panjang untuk segala urusannya. Salah satu tokoh novel adalah Yahya Jad al-Rab Sa‘I yang menjadi korban penembakan saat demonstrasi, dan meminta izin untuk operasi mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Tetapi Oleh pemerintah tidak diberi izin untuk dokter mengoperasi sehingga ia pun mati karena kehabisan darah.

Selain terekam dalam genre-genre sastra yang berbasis pada cetak, Arab spring yang sangat terkait kuat dengan media sosial, juga ada dokumentasi sastra ini dalam bentuk media yang oleh Eman Younis dalam artikelnya Manifestations of the Arab Spring in Literature: “Video Clip Poems” on You Tube as a Model disebut istilah “Video Clip Poems” (VCP). VCP terkait Arab Spring ini salah satunya disiarkan oleh Tamim al-Barghuthi dengan judul “ “Oh People of Egypt". Puisi ini tidak ditemukan dalam tautan yang ditunjukkan dalam artikel. Namun, ketika ditelusur kembali di Youtube ditemukan unggahan ulang modifikasi dari Tamim di kanal AJ+ dan puisinya dalam bahasa arab berjudul “Ya Sya’bu Misr” dan diunggah tahun 2021 berjudul Ma’a Tamim Ya Sya’bu Mishr.

Jika ditelusur lebih luas lagi, peristiwa-peristiwa Arab Spring ini banyak sekali yang mendokumnetasikan dalam bentuk artistik sastra.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler