Budaya dan Bahasa Melayu
BUDAYA DAN BAHASA MELAYU
Oleh Mustari
Hamka berseloroh tentang budaya Melayu, ia menganggap dirinya sendiri adalah bagian dari Melayu. Katanya, “Mati Belanda karena pangkat, mati Cina karena makan, mati Melayu karena angan-angan.” Autokritik Buya Hamka ini sering kami ulang-ulang waktu kuliah dahalu dalam rangka menertawakan diri sendiri ketika berdiskusi di Kelompok Diskusi al-Jamiah. Mengapa? Karena, menurut kami, bangsa yang bisa menertawakan dirinya sendiri adalah bangsa yang sehat dan cerdas secara mental. Bangsa yang mengerti kekurangannya dan siap untuk melakukan perubahan. Lalu kita kenal juga kata-kata satir: Politik Melayu, Janji Melayu, Dagang Melayu, Melayu Pemalas, dan lain sebagainya yang bernada otokritik. Gambaran lengkap dan padat tentang Melayu ada pada puisi Usman Awang.[1]
Membicarakan budaya Melayu dalam konteks Indonesia, tentu dalam rangka memperkuat budaya Indonesia yang katanya merupakan puncak-puncak budaya daerah yang ada di negara Indonesia. Melayu yang dimaksud di sini adalah lebih berat ke Riau dan Kepulauan Riau.
Unsur budaya itu banyak dan luas sekali, termasuk unsur budaya Melayu, yang tidak mungkin dapat dikupas tuntas dalam satu tulisan. Oleh karenanya, tulisan ini hanya akan berbicara pada satu aspek. Aspek yang disoroti adalah aspek bahasa karena bahasa adalah inti dari suatu budaya. Seperti kata pantun lama warisan budaya:
Yang lurik itu kendi,// yang merah itu saga.// Yang baik itu budi,// yang indah itu bahasa.//
Lalu dikuatkan oleh Raja Ali Haji dalam gurindamnya:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,// Lihat kepada budi dan bahasa,
Tidak tanggung-tanggung, sebuah bangsa akan dikenali rekam jejaknya hanya melulu dari budi dan bahasa-nya.
Persoalan pembinaan bahasa Melayu jika ditarik ke belakang, ada tokoh-tokoh penting yang pantas untuk disebut, antara lain Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (yang hidup di akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19) di Malaka. Seorang tokoh ber-ayah Arab ber-ibu Tamil, tetapi begitu kritis terhadap bahasa Melayu lalu membinanya dengan memilih profesi sebagai guru bahasa Melayu. Usahanya dilanjutkan oleh Raja Ali Haji dan kerabatnya di Pulau Penyengat di abad ke-19 yang terkanal dengan puisi Furindam 12-nya.
Tokoh-tokoh Melayu itu memilih bidang bahasa dan literasi untuk ditekuni dan dibina karena bahasa merupakan inti dari sebuah kebudayaan. Budaya hanya bisa digerakkan dengan bahasa. Tanpa bahasa, sebuah bangsa sulit untuk memajukan budayanya.
Di dalam QS surah al-Kahfi, Allah menceritakan petualangan Iskandar Zulkarnain menjumpai sebuah komunitas yang hampir-hampir tidak memiliki bahasa, lalu Allah memberi pilihan kepada Iskandar Zulkarnai untuk membinasakannya atau berbuat ihsan kepada mereka. Namun Iskandar Zulkarnain adalah Raja yang berbudi dan memilih membantu mereka dengan membangun tembok kokoh untuk memisahkan mereka dari Ya’juj dan Ma’juj, sang perusak bumi.
Dan, bangsa Melayu telah menyumbangkan inti kebudayaannya kepada bangsa Indonesia di mana bangsa Melayu sendiri turut melebur di dalamnya dan terus membina bahasanya. Setelah Raja Ali Haji dan saudara-maranya, ada nama-nama Suman HS, Raja Hamzah, Hasan Junus, Sutardji Kalsum Bachri, UU Hamidy, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Syamsuddin BM, Idrus Tintin, dan lain-lain (di abad ke-20). Lalu di antaranya muncul nama Tenas Effendy yang begitu fenomenal dalam sejarah bahasa dan kebudayaan Melayu.
Apa yang dilakukan oleh Tenas Effendy amat luar biasa karena ia mengumpulkan “Kitab Suci” bangsa Melayu yang teserak-serak di dalam tradisi lisan ke dalam sebuah kitab bernama Tunjuk Ajar Melayu setebal kurang lebih 700 halaman—Terimakasih kepada Bang Mahyudin Al Mudra yang telah menerbitkan “kitab pedoman” orang Melayu ini. Sayang, Tunjuk Ajar Melayu itu tidak sampai kepada setiap anak jati Melayu, sehingga “Budak-Budak Melayu” kini kurang mengenal lagi “petuah-petuah leluhurnya” yang dapat dijadikan tapis budaya ketika berhadapan dengan budaya luar. Tapi itulah kondisi zaman. Seperti kata pepatah berikut.
Sekali ombak melanda,// sekali pantai berubah.
Lalu bagaimana kondisi bahasa Melayu di Riau dan Kepulauan Riau saat ini? Di manakah dapat dijumpai penutur-penutur bahasa Melayu Jati? Mungkin di Daik Lingga yang menamakan negerinya sebagai Bunda Tanah Melayu atau di Natuna dan Anambas yang juah di utara kepulauan. Bagaiamana di Batam, Karimun, dan Tanjungpinang? Tentu kengkawan yang tinggal di sana lebih bisa menjawabnya. Yang jelas, kini, bahasa nitizen di sosmed sudah lebih unggul penggunaannya daripada bahasa ibunda.
Iseng-iseng saya sering bertanya kepada mahasiswa di awal perkuliahan Bahasa Indonesia tentang sebuah pepatah Melayu.
Duduk miring tegak pun miring,// digoreng garing, tak digoreng pun gaing,// itulah buah jering.//
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.//
Saat saya tanyakan kepada mereka, “Tahukah kalian apa arti “jering” dan “ulam” dalam pantun dan papatah di atas? Rata-rata mereka tidak tahu, hatta mereka berasal dari Melayu Riau atau Kepulauan Riau. Mereka lebih kenal dengan “jengkol” untuk menggantikan “jering”. Mereka lebih fasih menyebut “lalap” daripada “ulam”. Sedih? Tidak perlu sedih karena kata pepatah Melayu:
Tiap zaman ada anaknya,// tiap anak, ada zamannya.//
Apa yang dapat dilakukan oleh orang Melayu saat ini adalah memperkenalkan kembali jati dirinya dengan cara-cara yang bisa diterima oleh Generasi Langgas (kaum milenial) Melayu baik cara dan materinya.
Supaya Melayu tetap terbilang,// tunjuk dan ajar wajib disandang// petuah amanah wajib dipegang// adat lembaga wajib dikenang.//
Supaya Melayu tetap terpuji,// tunjuk dan ajar pemayung diri.// Bila Melayu tak mau terkeji,// tunjuk ajar hendaklah kaji.
Penutup dari uraian saya kutip kembali nestapa Tenas Effendy terhadap Nasib Melayu.
Sudah tercatat dalam sejarah,// Rumpun Melayu Bangsa bertuah//
Kerajaan banyak harta melimpah,// Daulatnya tegak marwahnya pun megah.//
Tetapi seperti kata pepatah,// Adat yang baru berubah-ubah//
Pagi tegak petangnya rebah,// sehabis senang timbullah susah.//
Karena Melayu ternama kaya,// datanglah kaum berbilang bangsa//
Merampas harta merebut kuasa,// mengadu domba sesama sebangsa.//
Diujung kata saya ingin menyitir pesan Hang Tuah:
“Tak Melayu hilang di bumi, patah tumbuh hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu, esa hilang dua terbilang.” Melayu memang tidak akan hilang, tetapi Melayu telah berdiaspora dalam wujudnya yang paling baru.
Akhir kata:
Dau selasih tumbuh di batu,// Terima kasih, Tengkyu.