Heroisme Mitis: Heroisme Fiktif dan Heroisme Realistis

Heroisme Mitis: Heroisme Fiktif dan Heroisme Realistis

Dr. Ening Herniti, M.Hum.

Tokoh superhero Superman, Batman, Spiderman, dan Catwoman menyimbolkan “heroisme mitis”. Heroisme dalam Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai kepahlawanan atau keberanian dalam membela keadilan dan kebenaran. Tokoh superhero tersebut sebagai metafora dari kebajikan yang diidealisasikan dan direpresentasikan secara konkret melalui tindakan. Representasi tersebut bersifat metaforis karena menyimbolkan tema-tema psikologis atau sosial secara konkret melalui penggambaran karakter dan pelbagai situasi yang tidak asing dan dapat dipahami. Interpretasi itu juga pada dasarnya bersifat metaforis karena didasarkan atas upaya membuat pelbagai asosiasi dan analogi yang dirancang untuk menampilkan sesuatu maksud atau yang diinginkan secara konkret.

Metafora adalah ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang yang dipakai karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Metafora juga mengandung makna tentang pemahaman dan pengalaman atas sejenis hal yang dimaksudkan dengan perihal yang lain. Metafora sesuatu yang dideskripsikan diganti dengan uraian lain yang dapat dibandingkan.

Roland Barthes menandaskan bahwa tema-tema yang ada di dalam pelbagai cerita atau dongeng paling awal yang dimiliki manusia dikenal dengan nama mitos. Dalam buku Mitologi Bab II yang berisi “Mitos Masa Kini”, Barthes menjelaskan konsep baru tentang mitos. Menurutnya, mitos adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat mitos, bukannya konsep, gagasan, atau objek. Jadi, mitos adalah suatu cara untuk mengutarakan pesan. Mitos adalah hasil wicara bukan dari bahasa. Mitos bukanlah suatu kebohongan, melainkan suatu pembelokan. Mitos tidak menyembunyikan apa pun, tetapi untuk mengungkapkannya diperlukan distorsi. Mitos tersebut terus merasuk ke dalam dan menjadi sumber informasi kegiatan pendongengan di dalam budaya pop.

Budaya pop atau budaya populer (populer culture) mulai merebak di kalangan masyarakat modern pada abad ke-20. Budaya populer merupakan budaya komersial sebagai dampak dari produksi massal dan industrialisasi. Budaya atau kebudayaan dalam pandangan C.A. van Peursen dalam bukunya Strategi Kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau sekelompok orang. Oleh karena itu, kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis. Salah satu contoh budaya populer adalah film.

Film Superman, Batman, Spiderman, dan Catwoman mengisahkan heroisme fiktif di dunia Barat. Heroisme fiktif mengisahkan sekitar tema universal, yakni perjuangan si baik melawan si jahat. Demikian juga kisah kepahlawan fiktif yang ada di Indonesia, seperti Wiro Sableng. Namun, ada juga heroisme realistis seperti kisah Walisanga, Diponegoro, Cut Nyak Dien, Pattimura, R.A. Kartini, dan sebagainya. Heroisme fiktif dan heroisme realistis tersebut menjadi heroisme mitis karena menjadi simbol hero yang dimitoskan oleh masyarakat. Hal ini terlihat pada tokoh Kartini yang sedemikian rupa dimitoskan menjadi simbol perempuan mandiri, berpendidikan, cerdas, dan aktif. Oleh karena itu, tidak mengherankan akan muncul ungkapan-ungkapan seperti “Menjadi Kartini Masa kini”.

Mitos juga muncul dalam tradisi Islam. Kuntowijoyo dalam buku yang berjudul Budaya dan Masyarakat menandaskan pada masa lalu dalam tradisi Islam yang rasional dan historis ternyata tidak mampu membendung pembentukan mitologi Islam termasuk di Jawa. Kisah para wali merupakan mitos daripada sejarah. Demikian halnya dengan kisah pertemuan Nabi Khidir dan Sunan Kalijaga dalam Serat Suluk Syekh Malaya adalah mitologi Islam Jawa. Lebih lanjut Kuntowijoyo menandaskan bahwa kadar mitos dari Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani pasti mendapat penajaman tertentu dalam sikap keagamaan mistis Islam di Jawa.

Penyimbolan tokoh tertentu menjadi simbol utama dalam pengambaran kepahlawan akan memunculkan heroisme mitis. Hal ini sangatlah wajar mengingat kehidupan manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses kehidupan (imanensi) dan transedensi. Manusia membutuhkan simbol tertentu untuk dijadikan sebagai penyemangat dirinya sendiri, orang lain, atau kelompok tertentu.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler