Refleksi dan Kesaksian Seorang Perempuan Muslim Terhadap Nawāl al-Sa’dāwī
Refleksi dan Kesaksian Seorang Perempuan Muslim Terhadap Nawāl al-Sa’dāwī
Oleh: Dr. Yulia Nasrul Latifi, S.Ag., M.Hum.
Innālillahi Wa Innā Ilaihi Rāji’ūn...tanggal 21 Maret 2021 Dr. Nawāl al-Sa’dāwī telah dipanggil oleh-Nya...duka dan kesedihan yang mendalam ini serasa tidak dapat digambarkan. Sang Humanis sejati, dan juga Sang Feminis yang mendasarkan perjuangannya pada humanitas perempuan telah berpulang. Abadilah engkau dalam dekapan kasih rahim-Nya...amin.
Duka atas kepergian seseorang yang kita kasihi atau kita kagumi adalah hal yang manusiawi. Namun, kedukaan tersebut terkadang terasa lain dan menjadi berbeda, ketika dia yang telah pergi dan meninggalkan jejak-jejak penting bagi kelangsungan perjalanan peradaban ternyata masih menyisakan sangat banyak catatan, goresan, pemikiran penting yang belum terpahami, belum terungkapkan, entah karena terlalu dalamnya pemikiran yang disampaikan sehingga tidak dapat tertangkap secara langsung, atau entah karena beberapa faktor lain yang turut membentuk dan mengonstruksinya sehingga cahaya yang ada menjadi hilang atau dihilangkan. Tulisan ini adalah sebuah refleksi dan testimoni tentang percikan cahaya yang ada dalam jejak-jejak Nawāl al-Sa’dāwī.
Bagi saya, sosok Nawāl al-Sa’dāwī; pemikiran dan perjuangannya yang tiada kenal lelah hingga meninggalnya sekarang ini adalah salah satu dari sosok penerus perjuangan pada nabi dalam masyarakat kontemporer dengan kompleksitas problem yang saling terkait, yang memang tidak mudah untuk memilah-milahnya secara rigid.
Refleksi yang paling mendasar dari diri saya adalah, Nawāl al-Sa’dāwīlah yang mampu membukakan mata saya tentang tabir gelap yang telah menutupi agama selama ribuan tahun, sehingga tabir gelap itu mengonstruksi realitas ketidakadilan terhadap perempuan dalam agama. Dalam banyak karyanya, Nawāl al-Sa’dāwī selalu konsisten mengatakan bahwa dalam agama ada sisi ‘substansi’ yang menandai agama sebagai agama, yaitu sistem pengetahuan yang selalu berpihak pada keadilan dan humanitas. Cara penyingkapan Nawāl al-Sa’dāwī adalah dengan pembacaan antropologis yang luas, sehingga ia menempatkan agama secara proporsional. Sebab itulah, karya-karya Nawāl al-Sa’dāwī mengungkap banyak sisi filosofis, sosiologis, historis, psikologis, ekonomis dan politis terkait analisis gender dan tafsir patriarkis agama.
Sebagai seorang perempuan muslim (sebagaimana tentunya juga dirasakan oleh perempuan muslim yang lain), sejak usia kecil saya dipenuhi pertanyaan dan mempertanyakan tentang agama (bahkan tentang Tuhan) yang telah memberikan ketidakadilan pada perempuan sebab diskriminasi konstruksi ritual, hukum agama, dan penjelasan surga-neraka. Ketika protes dan gugatan tersebut saya sampaikan pada ibu saya, hal yang sama juga dialami oleh ibu saya yang ternyata juga mempertanyakan ketidakadilan tersebut ketika ibu berusia dini dan bahwa guru agama kami selalu melarang murid perempuan memprotes apapun terkait ketidakadilan gender, termasuk protes tentang perbandingan akal perempuan dan laki-laki, bahwa perempuan akalnya 1 sedang laki-laki 10. Pengajian-pengajian agama, lembaga pendidikan formal, informal, dan nonformal mengukuhkan semua bentuk diskriminasi tersebut sebagai kodrat perempuan yang bersifat ‘given’. Sejak kecil yang saya rasakan adalah bahwa ‘iman yang terluka’ adalah ‘iman seorang perempuan’ dalam konstruksi patriarkis wacana agama.
Ketika saya masuk di IAIN Sunan Kalijaga (1990) saya mulai mengenal pembedaan antara ‘agama’ dan ‘tafsir agama’. Apa yang kita terima sebagai agama sebenarnya adalah tafsir agama, artinya, ada konstruksi. Tahun 1990an tersebut memang mulai marak kajian gender dan agama, atau gender dan Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang tertimbun sejak usia kecil saya mulai mendapatkan jawaban melalui karya para pemikir, mufasir, dan aktivis perempuan Islam. Memang benar, pemikiran-pemikiran tersebut dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih luas dan produktif sehingga memberikan rasa optimisme saya pada agama yang tidak mengsubordinatkan perempuan. Namun, jujur saya mengatakan bahwa masih ada banyak pertanyaan yang menurut saya belum terjawab, termasuk pertanyaan substansi teologis: mengapa Tuhan bergender laki-laki, manusia pertama adalah laki-laki, dan nabi-nabi laki-laki?.
Sebenarnya saya membaca karya-karya Nawāl al-Sa’dāwī sejak kuliah S1 dan sejak saat itu menemukan ketertarikan tinggi. Namun karena beberapa hal, skripsi dan tesis saya tidak mengkaji Nawāl al-Sa’dāwī. Ketika saya menempuh jenjang S3, saya membangun kembali pencarian jawaban atas kegelisahan-kegelisahan teologis saya yang sejak kecil belum terjawab. Sebab itulah, saya menulis disertasi dengan memilih kajian pemikiran Nawāl al-Sa’dāwī terkait gender dan agama.
Ketika saya bergumul dengan karya-karya Nawāl al-Sa’dāwī, mengikuti orasi dia dan tulisan-tulisannya di surat kabar Mesir hingga di usia senjanya kini, saya merasakan seperti baru terlahir kembali. Saya merasa menemukan jawaban atas apa yang selama ini tidak terjawab. Iman yang luka dari seorang perempuan muslim, telah berubah menjadi iman yang menyimpan energi sangat kuat; iman yang semakin hidup dan menghidupi. Nawāl al-Sa’dāwī menjawab sangat logis dan argumentatif atas konstruksi maskulinitas Tuhan, pemaknaan maskulin kisah Adam-Hawa, dan fenomena para nabi yang laki-laki.
Begitu kuatnya argumentasi teologis yang dibangun oleh Nawāl al-Sa’dāwī melalui pembacaan antropologisnya bahwa, menurut Nawāl al-Sa’dāwī, sebenarnya agama justru menjunjung tinggi otonomi perempuan. Secara konsisten, keyakinan Nawāl al-Sa’dāwī tersebut didasarkan pada keyakinannya atas ayat-ayat dalam al-quran yang meneguhkan otonomi perempuan. Pertama, al-Qur’an menekankan persamaan asal-usul penciptaan manusia (laki-laki dan perempuan) yang tercipta dari ‘jiwa yang satu’ (nafs wāḥidah), yang mana ayat tersebut tersebar dalam al-Qur’an. Kedua, al-Qur’an menekankan persamaan dalam bentuk kebebasan memilih dan mengembangkan budaya; bentuk, posisi, dan peran manusia dalam berkebudayaan dan berperadaban tanpa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan (inna al-mu’minīn wa al-mu’mināt ba’ḍuhum auliya’u ba’ḍ [al-Tawbah: 71]).
Dalam banyak karyanya, baik fiksi maupun non-fiksi, Nawāl al-Sa’dāwī menegaskan bahwa ayat-ayat yang ada dalam kitab suci (dalam agama apapun) haruslah dilihat konteksnya, penekanan unsur-unsur tertentu oleh Tuhan, dan kondisi masyarakat sebagai penerima pesan ilahi. Sebab itulah, terkadang bunyi ayat-ayat dalam kitab suci bertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Begitu pula hadis Nabi yang beberapa terlihat kontradikstif antara satu hadis dengan yang lain. Dengan demikian, Nawāl al-Sa’dāwī menegaskan bahwa fenomena budaya muncul dalam agama disebabkan agama berawal dari pintu ‘bahasa’. Hal ini terjadi disebabkan kitab suci menggunakan bahasa, dan bahasa adalah fenomena budaya. Bahasa memiliki hukum kebahasaan yang mencirikan kekuatan sekaligus kelemahan bahasa, baik terkait struktur mikro maupun makro dalam linguistik. Sebab itulah, Nawāl al-Sa’dāwī menegaskan bahwa pemahaman dan penafsiran atas ayat-ayat yang bias dan kurang humanis haruslah didialogkan dengan spirit ayat tersebut, kontekstualitas ayat, dan weltanschauung kitab suci yang selalu berpihak pada peneguhan nilai-nilai humanitas dan etika universal.
Nawāl al-Sa’dāwī bercirikan rasionalistik dalam membangun argumentasi-argumentasinya. Luasnya bacaan yang dia miliki sejak usia kecilnya menggambarkan wacananya yang multidisipliner, baik dari rumpun humaniora, sosial, maupun eksakta. Misalnya, kritiknya atas konstruksi wacana Tuhan yang maskulin didasarkan pada keyakinannya bahwa Tuhan pastilah tidak bergender sebab Dia sepenuhnya metafisik. Bagi Nawāl al-Sa’dāwī, fenomena yang bersifat fisika saja yang jelas-jelas kasat mata, bila dilihat dengan alat teknologi akan tampak keseluruhan bentuknya yang komplek dan rumit, sehingga tidak dapat dijelaskan dengan pasti. Misalnya, sebutir biji yang dilihat dengan alat tertentu akan tampak seperti bola bumi yang bergelombang dengan gerakan tanpa akhir dengan titik-titik lingkaran tak terhingga yang sulit dipastikan apakah ia elektron atau bukan. Lalu, bagaimanakah dengan Tuhan yang immaterial dan metafisik? Pastilah esensi Tuhan tidak dapat tertangkap pasti secara inderawi, sebab itulah konstruksi wacana Tuhan yang bergender laki-laki dikritik dan ditolak Nawāl al-Sa’dāwī. Contoh lain, sejak kecil Nawāl al-Sa’dāwī senang memikirkan esensi Tuhan, meskipun dia kemudian dimusuhi dan dikucilkan. Nawāl al-Sa’dāwī tetap melawan arus, disebabkan Nawāl al-Sa’dāwī ketika kecil lebih mempercayai pada apa yang ditulis filosof Yunani Kuno, Plutarchos, yang mengatakan bahwa manusia boleh meminta apa saja pada Tuhan. Bagi filosof, ilmuwan, dan seniman, yang paling berharga yang mereka minta adalah pengetahuan. Sedang pengetahuan terpenting adalah pengetahuan tentang Tuhan. Sebab itulah, Nawāl al-Sa’dāwī tidak pernah ragu untuk memikirkan Tuhan justru ketika dia berusia dini.
Nawāl al-Sa’dāwī mencurigai adanya problem terkait opresi perempuan dengan wacana agama yang dikonstruki adalah sejak ia berusia balita. Konstruksi agama di Mesir dan dunia Arab melanggengakan budaya patriarki dengan mengatasnamakan agama. Konstruksi itu berusia ribuan tahun, dengan opresi yang dilekatkan dalam wacana teologi, hukum, dan bahkan eskatologi (kontruksi wacana surga neraka). Ketika di sekolah, Nawāl al-Sa’dāwī sering dihukum guru agamanya karena perlawanannya terhadap maskukinitas Tuhan dan agama. Dia sering berbeda pandangan dengan keluarganya dan dimusuhi masyarakatnya sebab Nawāl al-Sa’dāwī terus menerus melakukan penolakan dan perlawanan atas konstruksi patriarkis wacana agama. Hingga usia dewasa dan tuanya, Nawāl al-Sa’dāwī terus menerus diteror, karya-karyanya di brendel, dijadikan buronan, di hukum penjara, hingga dihalalkan darahnya untuk dibunuh.
Justru karena opresi dan tiraniknya konstruksi wacana agama dan budaya yang patriarkis itulah, sejak usia kecilnya, Nawāl al-Sa’dāwī semakin kuat pendiriannya untuk melacak semua jejak patriarkis dalam wacana agama yang terkonstruksi. Pembacannya yang luas atas teori-teori sosial, psikologi, tasawuf, filsafat, dan lain-lain, menjadikan Nawāl al-Sa’dāwī mampu bersuara lantang dan tegas dalam penolakannya atas patriarki, sebab wacana agama telah dijadikan alat untuk melanggengkan patriarki. Nawāl al-Sa’dāwī dapat membongkar tabir gelap yang menyelubungi agama tentang gender, yaitu dehumanisasi perempuan yang terus menerus berlanjut dengan mengatasnamakan agama. Bagi Nawāl al-Sa’dāwī, faktor dominan pembentuk konstruksi patriarkis dalam wacana agama adalah faktor ekonomi, yaitu ketika munculnya sistem kelas dalam sejarah umat manusia yang membedakan antara tuan dan budak dan faktor-faktor lain yang muncul sehingga mengakibatkan dominasi patriarki. Sistem kapitalisme purba tersebut terus berlanjut hingga munculnya agama-agama dunia, dan bahkan hingga saat ini sistem kaitalisme terus diperkokoh. Sebab itulah, menurut Nawāl al-Sa’dāwī, tiga faktor penyebab degradasi harkat dan martabat perempuan adalah: sistem kelas, budaya patriarki, dan tafsir agama.
Dalam banyak karyanya, Nawāl al-Sa’dāwī menunjukkan bukti-bukti arkeologis, historis, dan antropologis bahwa sebelum munculnya tiga hal tersebut, perempuan memiliki posisi yang sangat tinggi dan telah memanusia sebagai subjek yang utuh. Bahkan, awal kemunculan manusia di bumi menunjukkan fenomena matriarkat selama jutaan tahun dan akhirnya membentuk budaya matriarki. Pada masa tersebut, peran dan kedudukan perempuan sangat tinggi, sehingga dewa-dewa digambarkan perempuan. Perempan memegang posisi tinggi dalam politik, ekonomi, sosial, dan agama sehingga ritual-ritual keagamaan dipimpin perempuan dan hukum-hukum agama dikonstruksi oleh perempuan. Kuatnya sistem matriarki diawali dengan penemuan sistem bercocok tanam oleh perempuan yang kemudian membentuk budaya dan sistem pertanian yang menandai era baru sejarah kemanusiaan dengan mengakhiri masa berburu dalam sejarah manusia.
Pembacaan antropologis Nawāl al-Sa’dāwī yang sangat jauh inilah yang menurut saya memberikan kebaruan pemikiran yang sangat jelas. Berbeda dengan feminis lain yang menjadi feminis dikarenakan hal lain, atau dalam usia yang sudah dewasa, atau dipengaruhi oleh aliran pemikiran yang sedang trend di Barat, Nawāl al-Sa’dāwī menjadi feminis sejak usia kecilnya sebelum dia mengenal sama sekali apa itu feminisme. Nawāl al-Sa’dāwī juga bergerak dengan rasionalitasnya, sehingga sejak kecil dia menjadi filosof, sebab memahami dan menerima segala sesuatu dengan akalnya, atau mencari tahu dan menyelidiki segala sesuatu secara mendalam untuk mengungkap fakta yang tersembunyi. Corak feminismenya adalah humanis yang melekat dalam kedirian perempuan sebagai manusia utuh yang berharkat dan bermartabat dalam akal, jiwa, dan raganya.
“Tuhan adalah keadilan yang dapat didekati dengan akal”. “Memperjuangkan keadilan adalah bentuk dari keimanan”. “Sejak kecil aku berhayal adanya dunia lain yang tidak membeda-bedakan manusia karena jenis kelamin, etnis, agama, atau kekayaan”. Itulah beberapa kata yang ditulis nawal dalam otobiografinya, atau dalam karya-karyanya. Aliran-aliran feminisme yang muncul di Barat: eksistasialisme, marxisme, liberalisme, radikalisme, posfeminisme, ekofeminsime, poskolonial, dan lain-lain adalah aliran yang menggambarkan salah satu akar penyebab opresi perempuan, yang kemudian paham tersebut dikembangkan dan terkadang justru menjadi reduksionis, sebab memahami perempuan dari bagian tertentu saja. Aliran-aliran tersebut juga, tidak jarang, hanya menggambarkan trend pemikiran yang sedang berkembang dan mengembangkan pemikiran yang ekstrim, sehingga terkadang menyalahi humanitas perempuan yang merdeka memilih tindakan dan berkeputusan.
Manurut saya, Nawāl al-Sa’dāwī berbeda dari aliran-aliran feminisme Barat tersebut. Pemikiran feminisme Nawāl al-Sa’dāwī bercorak humanis-transendental. Dia menjadikan dasar ontologi perjuangannya adalah perempuan sebagai manusia, sebagai subjek yang utuh yang memiliki kebebasan penuh dalam memilih tindakan dan berkeputusan dengan segenap akal, jiwa, dan raganya dalam bingkai harkat martabat kemanusiaan yang tinggi dan mulia sebagaimana laki-laki. Transendental adalah orientasi perjuangan Nawāl al-Sa’dāwī yang mana Nawāl al-Sa’dāwī membawa perjuangan feminismenya ke arah penyempurnaan misi kekhalifahan manusia di bumi, bahwa laki-laki dan perempuan mengembang misi kemanusiaan dan kekhalifahan yang sama. Tidak ada pembakuan bentuk, posisi, peran antara laki-laki dan perempuan. Yang terpenting adalah, peran-peran kemanusiaan tersebut dilakukan dalam kerangak etika universal yang saling menjunjung tinggi kemanusiaan masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan. Keutuhan otonomi perempuan dan keberadaannya sebagai subjek adalah sebuah keutuhan eksistensi, atau being, yang diorientasikan pada tujuan transendental.
Inilah alasannya, mengapa dalam testimoni saya, Nawāl al-Sa’dāwī telah memberikan satu jawaban dan menyuguhkan cara berfikir yang sangat holistik utuk memahami fenomena subordinasi, iferioritas, dan marginalitas perempuan. Khusus terkait wacana agama yang terkonstruki patriarkis, Nawāl al-Sa’dāwī telah menawarkan kita satu pembacaan yang kritis, holistik, dan progresif. Agama tidak pernah membatasi atau mengekang perempuan. Tafsir agamalah yang menyebabkannya. Dalam analisis wacana, terkait knowledge and power, tafsir yang dikonstruki selama ribuan tahun telah memenangkan wacana dominan tertentu dan menyembunyikan wacana lain disebabkan ideologi dan kekuasaan. Ayat-ayat yang bernuansa kontekstual yang bersifat historis telah dijustifikasi sebagai kebenaran universal untuk dijadikan satu-satunya sandaran ontologis dalam merumuskan dan mendefinisikan perempuan sebagai makhluk sekunder. Padahal, bertebaran ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menekankan persamaan manusia, laki-laki dan perempuan. Kritik Nawāl al-Sa’dāwī atas konstruksi patriarkis wacana agama adalah upayanya untuk membumikan nilai esoterisme agama yang telah dihilangkan oleh jejak patriarkis selama ribuan tahun.
Selamat jalan Sang Guru....
Pesan kemanusiaan dan esoterisme agama yang selalu kau rindukan dan kau perjuangakn pembumiannya agar menjadi dasar etika bagi manusia dalam berbudaya dan berperadaban, adalah pesan terbesarmu yang kami catat.
Semoga semakin tumbuh tunas-tunas baru yang meneruskan perjuanganmu...nafas kemerdekaan yang kau ajarkan, akan menghidupkan nafas-nafas baru yang melanjutkan perjuangan...abadilah engkau...dan engkau akan abadi...