Anekdot Ramadhan (Ramadhaniyyāt): Al-Makmun dan Seorang yang Mendakwa Diri sebagai Nabi

Anekdot Ramadhan (Ramadhaniyyāt):

Al-Makmun dan Seorang yang Mendakwa Diri sebagai Nabi

Oleh Dr. Zamzam Afandi, M.Ag.

Di era keemasan Islam, bangsa Arab disamping dikenal sangat serius mendiskusikan berbagai macam pengetahuan: Ilmu bahasa, hukum, teologi, filsafat dan sain semisal matematika, astronomi dan lain sebagainya, juga memiliki ketrampilan merekam dan menuliskan fenomena sosial dan budaya yang terjadi pada masanya. Para penulisnya pun bukan orang sembarangan, tapi para intelektual, buadayawan dan ulama besar seperti Abū Ḥayyān al-Tauḥīdī, al-Jaḥidh, Ibnu al-Jauzī , Ibnu Ḥazm dan lainnya.

Tradisi merekam fenomena sosia-budaya dan politik dalam bentuk anekdot, cerita luncu atau jenaka tampaknya juga terus berlangsung hingga hari ini. Ada ragam motif yang mendorong para intelektual merekam fenomena tersebut: Untuk hiburan (mengundang tawa dan canda), sindiran, dan kritikan. Rekaman anekdote dan berbagai lelucon lainnya umumnya mereka tulis dalam buku yang diberi judul Nawādir, Ṭarāif, Akhbār, Qaṣaṣ, Musāmarah, Fukāhah dan Nuzhah. Di Indonesia salah satu yang sudah sangat populer ialah nawadir Juha dan Abu Nuwas (Nawas).

Anekdot dan lelucon lainnya itu sesungguhnya merupakan representasi atau gambaran prilaku, adat istiadat, tradisi, budaya dan pandangan hidup bangsa Arab. Sebab itu, ia masih relevan untuk dibincangkan dimasa kini untuk mengetahui kebudayaan mereka sekaligus bermanfaat untuk mengkontekkan bacaan kita atas teks Arab klasik (sastra maupunn lainnya).

Salah satu cerita menarik ialah kisah al-Makmun (170 H-218 H/786 M-833 M), Khalifah Abbasiyah yang sangat terkenal cerdas dan pemikir dengan seorang yang mendakwa diri sebagai Nabi. Berikut ini ceritanya.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, ketika al-Makmun tengah asik berbincang-bincang dengan sejumlah pejabat tinggi kekhilafahan termasuk Hakim Agung Yahya bin Aktsam, tiba-tiba seseorang datang dan masuk ke istana. Ia mengaku sebagi Nabi Ibrahim. Kemudian terjadilah dialog seperti berikut:

- Al-Makmun : Nabi Ibrahim memiliki banyak mukjizat, diantaranya api yang panas dapat terasa dingin. Saya akan membakarmu. Jika kamu tidak terbakar, saya akan mempercayaimu sebagai Nabi.

+ Pengaku Nabi : Coba mukjizat yang lainnya!

- Al-Makmun : Nabi Musa punya mujizat tongkat ketika ia lemparkan menjadi ular raksasa. Ketika ia pukulkan ke laut, menjadi terbelah. Juga ketika kedua tangan beliau masukkan ke dalam saku lalu muncul cahaya putih yang amat terang.

+ Pengaku Nabi : Waduh, yang ini lebih berat daripada mukjizat Ibarahim. Saya ingin mukjizat lain yang lebih ringan.

- Al-Makmun : Baik, kalau begitu coba tunjukkan mukjizat Nabi Isa, menghidupkan orang yang sudah mati.

+ Pengaku Nabi: Nah ini, saya siap menunjukkannya. Sekarang akan saya pukul kepala sang Hakim Agung, Yahya, hingga dia mati, setelah itu akan saya hidupkan lagi beberapa jam.

Mendengar perkataan lelaki itu, seketika sang Hakim berkata : Baik…baik… saya orang pertama yang percaya padamu…!

Mendengar pernyataan Sang Hakim tersebut, al-Makmun jadi tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian memerintahkan agar lelaki itu diberi hadiah. Setelah diberi hadiah, ia pun langsung pergi.

Sumber bacaan: Mustafa Abdurrahman, Ramadhaniyyāt: Adab-Fann-Nawādir, (hlm. 91).

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler