Ramadan Karim, Ramadan Mubarak: Keindahan tanpa Distraksi

Ramadan Karim, Ramadan Mubarak: Keindahan Tanpa Distraksi

Oleh Dr. Yunita Asmawati, S.IP., M.Si. *

Ketika Ramadan tiba, umat Islam bersuka cita tanpa sebuah keterpaksaan menyambut datangnya Ramadan. Bahkan, Ramadan dinanti dan perpisahannya diselipkan doa untuk kembali bersua. Seolah telah tersimpan di dalam memori manusia tentang keindahan Ramadan dengan berbagai janji Allah Yang Mahapasti. Oleh karena itu, ketika mendapati kata Ramadan, sesederhana me-recall, manusia seolah tidak lagi perlu melakukan proses persepsi karena nilai keindahan dan keagungan Ramadan tertanam dalam hati dan pikiran manusia.

Allah menjadikan Ramadan dengan keagungan. Berbagai peristiwa penting termuat dalam rentang kesucian Ramadan. Sebagaimana QS Al-Baqarah 185 yang diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia terhadap kebaikan dan kebatilan. Berbeda dengan persitiwa penting keduniawian yang memiliki masa dalam kejayaannya bahkan degradasi dalam penilaiannya. Ramadan memiliki penilaian yang tidak terdegradasi melalui Alquran dan hadis.

Sebagai manusia sosial, wajar ketika tebersit keingintahuan terhadap bagaimana Ramahan dipersepsikan dalam konteks psikologi sosialnya. Bagaimana Ramadan dipersepsikan begitu agung tanpa distraksi dalam pemikiran manusia? Pertama, pada titik awal manusia menerima berita tentang Ramadan. Manusia terstimulasi terhadap Ramadan yang memunculkan deteksi energi positif yang mendalam. Kemudian umat menyeleksi pada isi berita menuju pada tahap berikutnya guna mempersepsikan Ramadan dalam nalar manusia. Salah satunya dengan bersandar pada hadis Nasa’i dan Baihaqi:

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ

فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

(HR. Ahmad, Nasa’i, dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 55).

Memperdengarkan berita tentang atakum syahr Ramadlan yaitu datangnya bulan Ramadan kepada manusia. Kemudian organ manusia terstimulasi dengan positif misalnya pada kalimah syahr Ramadlan syahr mubarak (Ramadhan adalah bulan penuh berkah). Alam bawah sadar manusia pun mulai terlibat pada kalimah mubarak sebagai sebuat stimulus yang positif. Seolah menjadi benchmark, kalimah mubarak ini menarik perhatian manusia untuk selanjutnya mengetahui tentang apa saja yang menjadikannya penuh berkah.

Kedua, manusia berpikir kompleks dengan kognitifnya melalui cluster pada berita datangnya Ramadan. Misalnya, cluster yang merepresentasikan kewajiban manusia dalam ibadah Shiamu Ramadlan pada kalimah faradla Allah ‘alaikum shiyamahu. Oleh karena itu, rukun berpuasa Ramadan dapat menjadi representasi kuat atas diwajibkannya berpuasa Ramadan. Cluster lainnya seperti stereotip, adakah dimensi strereotip pada Ramadan? Misalnya, dimensi arah yaitu positif dan negatifnya. Lalu dimensi intensitas juga kerap menarik seperti seberapa jauh manusia percaya bahwa shiamu Ramadlan ini menjadi ibadah fardu. Dapat pula ditiilik dimensi keakuratan tentang akurasi stereotip dengan kenyataan.

Kemudian dimensi isi, dibicarakan tentang kehususan Ramadan hingga apa yang menjadikannya syahrun mubaarak (bulan penuh berkah). Diungkapkan dalam matan hadis an-Nasa’i dan al-Baihaqi bahwa tuftahu fihi Abwab as-Sama’ (pintu-pintu langit terbuka). Bahkan wa tuglaqu fihi abwab al-jahim (pintu-pintu neraka ditutup) hingga wa tugallu fihi maradah asy-Syayatin (dan setan-setan durhaka terbelenggu). Sungguh bahwa ini menjadi bukti yang kuat bahwa Allah sangat mengkondusifkan sebulan Ramadan agar umat khusyuk dalam beribadah.

Adapun isi yang paling utama atas Ramadan adalah fihi lailah hiya khairun min alf syahr (terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan). Ada sebuah janji pasti Allah yang menjadi kemuliaan Ramadan, yakni Alquran diturunkan pada malam kemuliaan (lailah al-Qadr). Termaktub dalam surah Makiyyah QS Al-Qadr tentang malam seribu bulan atau malam kemuliaan. Malam mulia tersebut malaikat-malaikat mengatur segala urusan atas izin Allah dengan penuh kesejahteraan hingga fajar tiba.

Cluster seperti script dari Ramadan juga menjadi penting, tentang apa yang menjadi panduan manusia hingga rencana yang akan dilakukan untuk mengisi syahru Ramadhan. Pada akhir hadis dapat menjadi cluster tolok ukur mengenai penilaian yang bertolak belakang dengan indahnya menunaikan ibadah Ramadan melalui kalimah man hurima khairuha fa qad hurima yaitu “siapa pun yang dihalangi Allah untuk mendapatkan kebaikan Ramadan, maka ia pun terhalangi”.

Ketiga, interpretasi manusia atas fardu puasa penuh sepanjang Ramadan, menjadi media umat untuk terus beranjak kepada kekhusyukan Ramadan. Semakin beranjak dari hari-hari permulaan, Ramadan semakin menyuguhkan malam-malam mustajab yang dinantikan. Keempat, titik manusia menyimpan ingatan tentang Ramadan dengan segenap nilai mulia dalam benaknya (memorizing atau menyimpan).

Ketika Ramadan usai atau Ramadan masih jauh dalam hitungan bulannya, biasanya manusia ingin mengingat Ramadan, maka persepsi atas keberkahan Ramadan dengan kemuliaan yang ditetapkan Allah sebagai persepsi yang tidak pernah lekang pun terdistraksi dengan kemuliaan duniawi. Selamat menjalani ibadah puasa di Bulan Mulia.

Allahu A’lam Bisshawab …

*Lulusan Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Dosen FISIP Universitas Palangka Raya,

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler