Ramadan dan Pembebasan: Keimanan Emansipatoris R.A. Kartini

Ramadan dan Pembebasan:

Keimanan Emansipatoris R.A. Kartini

Oleh Dr. Yulia Nasrul Latifi, S.Ag., M.Hum.*

Ramadan hari ke-9 tahun 1442 H bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April 2021. Pada tanggal 21 April 1879 Kartini lahir, dan tanggal 17 September 1904 ia meninggal dunia dalam usia 25 tahun, setelah melahirkan anak pertama. Dalam usianya yang sangat pendek tersebut, ia telah berhasil meletakkan dasar pemikiran penting bagi kemajuan bangsa ini, khususnya bagi pembebasan manusia dari perbudakan antarsesamanya.

Semangat Ramadan adalah semangat pembebasan manusia dari kecenderungan naluriah yang bersifat hewaniah-destruktif. Secara filosofis, ketika manusia berpuasa dengan meninggalkan segala nafsu jasmaniahnya, pada hakikatnya, manusia sedang bergerak dan naik tingkatannya menuju derajat malakut; makhuk spirituil. Puasa mendidik diri untuk mengingat dan mengoptimalkan kembali potensi uluhiah-malakut dalam diri manusia tersebut. Sebab itulah, esensi puasa tidak dapat dilepaskan dari esensi pembebasan manusia dari kecenderungan nafsu-destruktif.

Refleksi peringatan Kartini juga memberikan pesan pembebasan yang relatif sama. Sebagai jiwa yang telah mengalami pencerahan, R.A. Kartini mampu hadir sebagai pembebas manusia dari berbagai belenggu sosial yang berbentuk patriarki, kolonialisme, tafsir destruktif agama, dan feodalisme. Inilah empat sumber ketidakadilan dan perbudakan manusia atas manusia yang lain yang menjadi kegelisahan R.A. Kartini di sepanjang hidupnya. Kritik, penolakan, dan keyakinannya dalam memperjuangkan keadilan bagi manusia tergambar dalam kumpulan surat yang dia kirim untuk para sahabatnya di Eropa.

Semangat liberasi R.A. Kartini adalah usaha emansipatorisnya dalam menjunjung tinggi harkat manusia yang memiliki kesetaraan dalam martabatnya. Sebab itulah, kritik dan penolakannya yang tajam atas sejumlah ideologi tiranik tergambar jelas dari kumpulan suratnya. Ia amat membenci patriarki yang mendegradasi kemanusiaan perempuan, begitu juga feodalisme dan kolonialisme yang melestarikan perbudakan. Kritiknya yang tajam atas praktik agama yang dehumanisme juga terpotret sangat jelas, sebab agama tidak dihadirkan dalam misi utamanya yang menebarkan perdamaian dan cinta kasih.

Pancaran jiwa yang telah tercerahkan tergambar dalam pemikiran keagamaan R.A. Kartini. Keimanannya yang kritis-emansipatoris selalu ia kedepankan untuk membangun dan mempererat cinta kasih pada sesama, dan itulah misi sejati agama. Ia menulis dalam suratnya, bahwa agama diturunkan untuk membawa rahmat, tetapi justru seringkali menjadi laknat yang menyebabkan pertumpahan darah. Sebab itulah, kegelisahan teologis-emansipatorisnya ia ungkapkan pada Tuhan yang mempertanyakan pada-Nya mengapa agama harus harus diturunkan ke bumi (R.A. Kartini, 2009: 31). R.A. Kartini juga memberontak, mengapa agama yang seharusnya mampu menjaga manusia dari berbuat dosa, tetapi justru banyak dosa yang diperbuat manusia atas nama agama (R.A. Kartini, 2009: 31).

Satu seperempat abad yang lalu, Kartini juga menuliskan pemikiran kritis-revolusionernya tentang filosofi pendidikan agama dan sosiologi agama yang ada dalam surat yang dia kirim untuk temannya, Stella:

Akan agama Islam, Stella, tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya mempercakapkannya dengan umat agama lain. Lagi pula, sebenarnya agamaku Agama Islam hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku kalau aku tiada kenal dan tiada boleh aku mengenalnya? Al-Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang yang tahu Bahasa Arab. Orang diajar disini membaca al-Qur’an, tapi yang dibaca itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar membaca tapi tidak diajarkan maknanya” (R.A. Kartini, 2009: 31).

Keimanan kritis-emansipatoris R.A. Kartini mampu menerangi pemikirannya, bahwa agama bukanlah sebuah keyakinan yang hanya diambil bungkus eksoteriknya melalui serangkaian ritual kering yang tidak memberikan makna bagi pemekaran kemanusiaan. Kritik R.A. Kartini atas fenoman Alquran yang hanya dibaca dan dikultuskan, tanpa diketahui arti dan maknanya yang merupakan bentuk kebodohan adalah ketajaman nalar yang kritis, yang tercermin dari kedalaman keimanan yang emansipatoris-profetis. Begitu juga nalar sosiologisnya, bahwa ia beragama Islam dikarenakan nenek moyangnya muslim adalah nalar pikir keagamaan yang sangat kritis. Ini artinya, R.A. Kartini sudah memiliki kesadaran sosiologis-antropologis agama, sebagai kata kunci penting untuk memahami hakikat pluralitas agama yang memang akan menjadi fakta empirik sepanjang sejarah.

Riwayat hidup R.A. Kartini menggambarkan kecerdasan dan jiwa humanitas tinggi sejak masa kecilnya. Ia sangat mencintai ilmu pengetahuan dan berjiwa pembelajar. Ia serap ilmu dan pengetahuan yang berasal dari manapun. Ia sangat ingin belajar bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman, namun budaya patriarki menghambatnya. Ia juga bercita-cita sekolah ke luar negeri, menjadi dokter, atau menjadi guru. Ketika dipingit sejak usianya 12 tahun, ia mengobati kemarahan dan pemberontaknya pada patriarki yang mengurungnya dengan cara menghabiskan usianya untuk membaca buku dan menulis di majalah dan surat kabar yang diterbitkan Belanda. Nama R.A. Kartini semakin populer di Eropa, khususnya di Belanda dan pemikirannya juga menjadi bahan diskusi di Eropa. Di situlah proses internalisasi dan dialektika pemikirannya terus bertumbuh dan berkembang. Dasar-dasar pemikiran liberatif-revolusioner-emansipatoris ia sebarkan melalui tulisan-tulisannya untuk pembebasan manusia (umumnya) dan kemajuan bangsa Indonesia (khususnya).

Dalam surat-suratnya tergambar keyakinannya pada Tuhan Allah Yang Mahakasih. Keimanannya yang memancarkan nilai profetis itulah yang ikut membentuk karakter dan kepribadian Kartini. Ia perempuan yang gigih berjuang, ulet, pemberani, dan memiliki ketajaman nalar berpikir yang jauh melampaui zamannya. Ia memiliki optimisme tinggi dalam menyongsong masa depan, bahwa 100 tahun mendatang jalan perjuangan yang ia rintis akan membuahkan hasil (R.A. Kartini, 2009: 30-31). Semua kritik dan penolakannya pada patriarki, feodalisme, tafsir destruktif agama, dan kolonialisme dia buktikan dengan sikap dan perilakunya yang menjunjung tinggi kesetaraan manusia.

Pada bulan suci Ramadan yang penuh pembebasan ini marilah kita kembali merenungkan ulang pembebasan diri yang telah kita lakukan. Sebuah pembebasan bagi diri kita sendiri dari kecenderungan nafsu destruktif, dan sebuah pembebasan dalam keimanan kita yang profetis-emansipatoris sesuai dengan tantangan dan dinamika zaman, sebagaimana R.A. Kartini telah memberikan landasan tersebut.

Selamat Hari Kartini!

Referensi:

R.A. Kartini. 2009. Habis Gelap Terbitlah Terang (terjmh. Armijn Pane). Editor Tim Balai Pustaka. Cet ke-27 2009. Jakarta: Balai Pustaka. Online 12 Februari 2010. http://www.katalogbukuonline.com.

* Dosen Progam Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler