Ramadan dalam Khotbah
Ramadan dalam Khotbah
Oleh Rifqi Aulia Rahman, M.Pd.I.*
Sudah menjadi kaidah umum dan sangat populer bagi banyak orang, bahwa bertindak dan melakukan segala sesuatu harus menyertakan tekad dan istikamah. Apalagi hal tersebut berhubungan dengan aktivitas penghambaan atau ibadah yang jelas dituntun oleh Tuhan sendiri. Bayangkan bila seorang karyawan pabrik tidak punya kemauan keras atau tekad untuk menuntaskan pekerjaan hariannya demi menafkahi anak-istri di rumah, karena tekad ini sungguh dekat pemaknaannya bahkan berkaitan langsung dengan konsep motif dan orientasi, juga ketika ia tidak tekun dan ajeg (istiqomah) menjalaninya. Ia tidak akan lama bertahan dengan profesinya tersebut. Pun juga seorang muslim, dalam melakukan ibadah Mahdloh dan muamalah ia harus punya tekad dan keajegan. Setidaknya ia bersetia dan istikamah kepada prinsip-prinsip dasar yang baik.
Fenomena tidak istikamahnya jiwa, mental, psikis dan disusul dengan rendahnya tekad seorang muslim memunculkan suatu adagium yang moncer hanya pada bulan Ramadan, “jemaah salat tarawih di masjid terus mengalami ‘kemajuan’ seiring bergantinya hari dalam satu bulan”. Penggunaan kata kemajuan ini sangat tidak asing di telinga mereka, ketika yang dimaksud adalah benar-benar maju barisan atau shof salat jemaah di suatu masjid dari hari ke hari berikutnya. Hal itu dimaksudkan bahwa kuantitas orang yang meramaikan masjid terus berkurang secara bertahap.
Dikatakan berkurang barangkali juga kurang tepat, karena jika dibandingkan sebelum Ramadan, jumlah jemaah yang dikatakan berkurang itu juga masih lebih mendingan. Namun adagium yang menguntai dengan asosiasi sindiran ini pasti punya alasan mendasar, bahwa ketika hari-hari pertama dalam bulan Ramadan, entah karena tersulut oleh propaganda iklan sirup di televisi atau hastag dakwah abal-abal di medsos, jemaah betul-betul membahana mengerubungi semua jengkal dari masjid. Jumlahnya tidak usah dipertanyakan lagi. Mereka seakan digiring oleh ajakan magis yang mengharuskan meramaikan masjid sebagai persyaratan memasuki bulan Ramadan.
Bila dicermati lebih lanjut, adagium di atas perlu dikaji ulang. Memang benar, kalau parameter tekad dan istikamah seorang muslim dalam ghirah keislamannya diukur dari kedisiplinan dan ketekunannya dalam meramaikan masjid. Hal itu menjadikan kuantitas jemaah signifikan. Namun pada sisi lain, ada hal-hal yang luput dari kesadaran seorang yang mencetuskan dan mengamalkan adagium-adagium seperti itu, yaitu kesadaran bahwa seseorang yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak datang ke masjid pada hari-hari pertengahan bahkan sampai penghujung bulan Ramadan tidak lantas orang tersebut luntur ghirah dan istikamah dalam beribadahnya. Adagium tersebut dilontarkan dalam benak jemaah memang harus punya makna dan konteks. Makna bahwa ia memberi batas-batas yang hanya bersifat materialistik.
Keputusan itu akan berbeda sama sekali kalau parameter untuk memaknai surutnya jemaah meramaikan masjid bukan hanya tertuju kepada kehadiran mereka secara fisik. Diupayakan setiap memaknai fenomena yang terjadi harus dimunculkan prasangka baik. Jadi, komentar atas jemaah yang seakan malas dan kurang semangat pada pertengahan bulan tersebut harus dicerna dari hakikat puasa itu sendiri. Puasa itu proses peragian, mekanisme pembersihan jiwa untuk menuju kepada Yang Sejati. Kalau seseorang itu benar-benar menikmati proses penyucian rohani itu, ia secara bertahap akan menemukan pemaknaan hidup dan kehidupan yang sifatnya esesial, tidak sekadar substansial apalagi material.
Mereka-mereka yang disindir itu barangkali justru sedang mengalami peragian jati diri di hadapan Tuhannya. Tentunya dengan menahan diri untuk tidak lagi mempertontonkan ibadah-ibadah di hadapan orang lain, dan lebih memilih berkhalwat dengan batin terdalamnya untuk mendekat kepada Tuhan-Nya dalam lorong-lorong kehidupan yang sunyi.
*Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab, FITK UNSIQ Jawa Tengah