Berandai-Andai dalam Alquran

Berandai-Andai dalam Alquran

Oleh Dr. H. Mardjoko, M. Ag.*

Salah satu gaya bahasa yang banyak ditemukan dalam bahasa Alquran adalah gaya bahasa berandai-andai atau lebih dikenal dengan nama gaya bahasa at-tamanny (berangan-angan atau berandai-andai). Basuni Abdul Fattah Fayyud dalam bukunya Ilmu al-Ma’âni memberikan definisi tamanny dengan; “Menuntut datangnya sesuatu yang dicintai, namun sesuatu tersebut tidak akan dapat dicapai dikarenakan mustahil terjadi atau jauhnya kemungkinan terjadi, sehingga tidak mungkin terjadi”. Sayyid Ahmad al-Hasyimi dalam bukunya Jawâhir al-Balâghah memberikan definisi tamanny dengan; “Menuntut datangnya sesuatu yang dicintai yang tidak terlaksana, serta tidak terjadi keberhasilannya, baik disebabkan oleh keberadaannya yang mustahil, ataupun mungkin saja terjadi tetapi sangat sulit sekali, sehingga mustahil terlaksana”. Ahmad Musthafa al-Maraghy dalam bukunya ‘Ulûm al-Balâghah: al-Bayân wa al-Ma’âni wa al-Badî memberikan definisi dengan; “Menuntut terjadinya sesuatu yang dicintai, tetapi sesuatu itu tidak terjadi, dikarenakan mustahil atau mungkin terjadi namun sangat sulit sekali, sehingga menjadi mustahil”.

Piranti gaya bahasa tamanni dalam al-Quran ada 4 (empat): ليت (laita) لعل (la’alla), لو (law), dan هل (hal).

Gaya bahasa tamanny dengan menggunakan lafadz (laita) antara lain pada firman Allah Swt QS. al-Qashash: 79, يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآأُوتِىَ قَارُونُ (duhai, sekiranya kita mempunyai kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Karun). Ayat tersebut mengisahkan kaum Karun yang mempunyai keinginan menjadi orang kaya, seperti kekayaan yang dimiliki oleh Karun. Disebutkan dalam beberapa referensi, bahwa Karun adalah hamba Allah yang hidup pada zaman Nabi Musa a.s. kekayaan Karun dapat dikatakan luar biasa banyaknya jauh melebihi yang dimiliki oleh hamba yang lain sezamannya. Oleh karena itu, wajar jika orang yang hidup pada zamannya berkeinginan menjadi orang kaya seperti Karun. Mengingat kekayaan yang diberikan Allah kepada Karun tersebut luar biasa banyaknya, sehingga sulit bagi orang lain yang bekerja dan menghasilkan kekayaan sebanyak yang dimiliki oleh Karun, kendatipun demikian bisa-bisa saja orang kaya seperti Karun. Sedemikian banyak harta Karun itu, sehingga tidak ada yang dapat memperolehnya sebanding yang telah diperoleh oleh Karun.

Gaya bahasa tamanny yang menggunakan piranti (la’alla) ditemukan dalam QS. al-Mukmin: 36-37 وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَّعَلِّي أَبْلُغُ اْلأَسْبَابَ (Dan berkatalah Firaun, "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa). Keinginan yang tidak akan terlaksana pada ayat tersebut adalah harapan Fir’aun agar para pengikutnya membuatkan bangunan yang menjulang tinggi mencapai pintu-pintu langit, dengan harapan ia bisa melihat Tuhannya Musa a.s. Harapan tersebut tentu tidak akan terjadi, karena banyak hal, yang pasti Tuhan Musa tidak bisa dilihat oleh mata kepala manusia, manusia juga tidak akan bisa membuat bangunan setinggi langit yang diciptakan oleh Allah Swt. Keinginan Fir’aun tersebut adalah angan-angan belaka yang tidak akan terwujud dalam kehidupan umat manusia.

Gaya bahasa tamanny yang menggunakan piranti (lau) ditemukan dalam ayat Alquran (QS. al-Baqarah: 167) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ (Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami). Keinginan ini muncul setelah mereka melihat siksa api neraka sebagai balasan dari amal kejelekan yang dilakukan ketika hidup di dunia, muncul harapan untuk hidup kembali ke dunia, dangan mereka berjanji sekiranya ini terjadi, maka orang musyrik tersebut akan menjadi orang yang beriman. Harapan hidup kembali tersebut tentu tidak akan terjadi, dan itu sangat mustahil.

Gaya bahasa tamanny yang menggunakan piranti (hal) juga ditemukan dalam ayat Alquran (QS. al-Mukmin: 11) فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ ( Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)? keinginan mereka untuk keluar dari neraka setelah mereka berada di neraka tersebut tidak mungkin terjadi. Keinginan tersebut diucapkan dengan lafadz (hal) apakah ada jalan bagi kami keluar dari neraka? Tentu tidak mungkin, sebab kesempatan hidup di dunia itu hanya sekali, setelah kehidupan di dunia, kelanjutannya adalah kehidupan di akhirat, kehidupan di akhirat tersebut merupakan balasan bagi kehidupan di dunia.

Sebagai kesimpulan, gaya bahasa berandai-andai (tamanny) banyak ditemukan dalam bahasa Alquran, dalam berbagai macam tema, keinginan-keinginan tersebut sebagian besar dapat dipahami sebagai wujud penyesalan, dan berkeinginan untuk memperbaikinya, namun keinginan tersebut tidak akan terjadi dan tidak akan dikabulkan oleh Allah Swt.

*Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler