Sains, KRI Nanggala 402, dan Lailatulqadar
Sains, KRI Nanggala 402, dan Lailatulqadar
Oleh Nur Alfa Rahmah, S.S., M.Pd.*
Pada penghujung bulan Ramadan ini, khususnya pada malam ganjil, adalah suatu keniscayaan bila seorang muslim sibuk berburu Lailatulqadar. Bagaimana tidak? Malam diturunkannya Alquran ini telah disebutkan keutamaannya di dalam nas, bahwa ia lebih baik dari pahala ibadah selama kurang lebih 83 tahun 3 bulan. Muslim mana yang rela membiarkan momen ini berlalu begitu saja? Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang memilih begadang semalam suntuk dan memindah waktu rehatnya ke siang hari.
Ada banyak hikmah di balik mengapa Allah Swt. tidak mengabarkan waktu persis kapan Lailatulqadar akan muncul. Salah satunya, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûm ad-Dîn adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh beribadah dalam rangka mengejar keutamaan tersebut. Dengan berlalunya bulan suci Ramadan, tentu berlalu pula Lailatulqadar. Untuk bertemu keutamaan malam ini, kita harus menunggu satu tahun lagi hingga Ramadan berikutnya. Itu pun jika jatah usia masih ada.
Kabar baiknya, ada amal lain yang diberitakan Rasulullah saw. yang memiliki keutamaan setara Lailatulqadar, bahkan lebih. “Maukah kalian, aku beritahu tentang suatu malam yang lebih utama dari Lailatulqadar? Malam yang lebih utama daripada Lailatulqadar adalah malamnya seorang penjaga yang berjaga-jaga di suatu wilayah yang menakutkan (di medang perang/perbatasan) dan dia amat berharap tidak kembali kepada keluarganya (berharap mati syahid).” (HR al-Hakim).
Membaca hadis tersebut, teringat akan tragedi kapal selam KRI Nanggala 402 yang menggugurkan tidak sedikit perwira. Meski tidak sedang berperang, para patriot itu syahid dalam upaya menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Tak bisa dimungkiri, hal ini tentu menyisakan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Namun, syahidnya mereka dalam mempertahankan kedaulatan adalah teladan bagi bangsa sekaligus kabar ‘gembira’ bagi mereka, sebab surga Allah seluas langit dan bumi telah menunggu mereka, sebuah privilege yang tidak setiap muslim bisa miliki.
Gugurnya para perwira itu juga mengingatkan bangsa Indonesia betapa mempertahankan kedaulatan negeri adalah sesuatu yang bernilai tinggi di mata Allah Swt. sebab agama dan negara sejatinya adalah satu, tidak terpisahkan.
Ada satu lagi keutamaan amal lain yang semulia Lailatulqadar, yaitu bertafaqquh dalam agama. Nabi saw. bersabda, “Tidaklah Allah Swt. disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada kepahaman terhadap agama. Sungguh seorang yang paham agama (faqih) lebih berat dihadapi oleh setan daripada seribu tukang ibadah. Segala sesuatu ada tiangnya. Tiang agama adalah fikih (paham agama).” (HR al-Baihaqi dan ad-Dariquthni). Abu Hurairah ra. yang menuturkan hadis Rasul ini berkomentar, “Sungguh aku duduk di majelis ilmu satu jam dan aku paham lebih aku sukai daripada menghidupkan Lailatulqadar”.
Menjadi cendekiawan dan alim ulama berarti mewarisi peran para Rasul untuk mendakwahkan Rahmat Allah ke seluruh alam, sebuah misi mulia dimana setiap civitas akademika perguruan tinggi Islam memang dicetak untuk mengembannya.
Setelah Ramadan berlalu, Allah Swt. masih memberi umat Islam kesempatan mengejar keutamaan serupa Lailatulqadar. Tidak semua muslim adalah perwira sebagaimana mereka yang syahid dalam menjaga kedaulatan bangsa. Namun, umat Islam memiliki medan perjuangan yang tidak kalah pentingnya, yakni medan ilmu pengetahuan. Rasulullah saw. bersabda, “Jika datang kematian (ajal) kepada seorang pencari ilmu, sedangkan ia dalam keadaan mencari ilmu (hadir di majelis ilmu), maka matinya terkategori mati syahid (mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mati syahid)”. Inilah kesitimewaan menjadi seseorang yang alim dan bijak dalam beragama.
Jika ditarik korelasi dengan turunnya Alquran pada malam Lailatulqadar, maka Alquran adalah simbol ilmu pengetahuan dan sains, yang menyingkap ilmu-ilmu Allah baik yang terindera maupun yang gaib. Ia menjadi renungan bagi umat Islam selaku intelektual muslim agar giat mendayagunakan ilmu yang kita miliki demi kemaslahatan umat.
* Nur Alfa Rahmah, Dosen Universitas Islam Negeri Antasari, Banjarmasin