Kenalkan Bahasa Arab pada Para Hujjaj

Kenalkan Bahasa Arab pada Para Hujjaj

Oleh Dr. H. Mardjoko, M. Ag*

Sebagai bangsa yang mayoritasnya beragama Islam, tentu merasa lega dengan dibukanya kembali pelaksanaan ibadah haji dan umrah bagi bangsa Indonesia (walaupun masih ada tinjauan kembali saat ini terkait peningkatan penyebaran varian Covid 19 baru). Ibadah haji (juga umrah), selain sebagai kewajiban bagi setiap orang muslim yang mampu, ibadah haji juga sebagai pertemuan muktamar akbar bagi utusan umat islam dari seluruh penjnuru dunia. Tidak kurang dari 5 (lima) juta umat islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makah dan Madinah untuk tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah Swt.

Keberadaan ibadah haji, pada dasarnya tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, namum bisa juga digunakan untuk pertukaran budaya (ta’âruf: istilah al-Qurân) antara para hujjaj. Sehingga diharapkan, para hujjaj tidak hanya memperoleh pahala dari Allah karena telah melaksanakan ibahadh haji, melainkan juga mendapat ilmu pengetahuan dengan berkomunikasi dengan para hujjaj lain yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Idealnya demikian, namun setiap sesuatu yang ideal itu tidak mudah dapat dicapai, termasuk oleh para hujjaj yang berasal dari wilayah Indonesia. Salah satu penyebab idealisme pelaksanaan ibadah haji tersebut belum dimiliki oleh para hujjaj bangsa Indonesia, antara lain tidak atau kurang adanya kemampuan sebagian besar para hujjaj Indonesia dalam berbahasa Arab, atau berkomunikasi dengan bahasa Arab yang menjadi bahasanya orang Arab.

Coba perhatikan, apa yang diceritakan oleh sebagian besar para hujjaj Indonesia setelah pulang dari menjalankan ibadah haji dan umrah? Mereka akan mengatakan antara lain; “Wah, Masjid al-Haram itu besar dan bersih”, “ Wah, orang Arab itu putih-putih”, “Wah, orang Afrika itu hitam-hitam”, “Saya tinggal di daerah Bahotman, lantai 12 ” dan yang semakna dengan itu. Mereka hanya mengatakan apa yang dapat dilihat oleh mata kepala, bukan menceritakan apa yang ditanyakan kepada hujjaj pada yang lain. Seperti terkait dengan budaya bangsa lain, kebiasaan dalam beragama, Suasana kehidupan masyarakat, pendidikan, atau yang berkaitan dengan ekonomi. Hal-hal yang berkaitan dengan tukar budaya tersebut baru bisa dicapai manakala para hujjaj Indonesia bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab.

Melihat fakta tersebut, semestinya diupayakan terobosan dalam rangka menjembatani jurang pemisah antara idealisme dan fakta yang ada, yaitu dengan mengenalkan sedikit budaya dan bahasa Arab bagi para hujjaj. Betul, kemampuan berbahasa Arab tidak bisa diperoleh oleh hujjaj dalam satu waktu yang singkat, ia membutuhkan waktu yang lama. Namun tidak perlu pesimis, harus dimulai dari sekarang, benar pepatah Arab yang mengatakan “man jadda wajada” artinya “barang siapa yang berusaha, ia bisa”.

Sekedar dimengerti, Bahasa arab dapat dibedakan menjadi 2 (dua); bahasa Arab Fushhâ, dan bahasa Âmiyah. Bahasa arab fushha adalah bahasa arab yang berkaidah. Bahasa ini digunakan dalam pertemuan-pertemuan resmi kenegaraan, bahasa tulis menulis, serta bahasa yang digunakan di kebanyakan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga pendidikan. Sementara bahasa âmiyah adalah bahasa yang digunakan oleh orang arab dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa âmiyah ini tidak berkaidah, sebagaimana bahasa fushhâ.

Beberapa lafal yang sering didengar atau dikatakan oleh Hujjaj, antara lain; Ucapan (yil-haj) asalnya (yal-haj) sering diucapkan oleh orang arab bagi hujjaj pria, baik yang sudah melakukan ibadah haji atupun belum, artinya pak haji. Ucapan (ya hâjah) asalnya (yâ hâjah) sering diucapkan oleh orang arab bagi hujjaj wanita, baik yang sudah melakukan ibadah haji atupun belum, artinya bu haji. Ucapan (tarik) asalnya (tharîq) sering diucapkan oleh orang arab, terutama petugas haji ditujukan kepada hujjaj yang memadati suatu tempat, artinya jalan, atau minta jalan dan para hujjaj disuruh minggir.

Ucapan (haram) dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa barang itu belum/tidak bisa dibeli dengan harga itu. Ucapan (haram) asalnya (masjidil-Haram) sering diucapkan oleh seseorang yang berada di pintu bus, dan mengajak orang lain untuk naik menuju ke Masjidil-Haram. Ucapan kata (haram) tersebut dimaksudkan sebagai ajakan kepada hujjaj berangkat ke Masjidil-Haram. Ucapan (haramiy) sering diucapkan oleh orang arab di dalam bus, dan menghadap ke penumpang. Ucapan tersebut dimaksudkan agar kita berhati-hati dengan bawaan kita, terutama uang, mengingat di dalam bus ada copet, ucapan tersebut mempunyai pengertian sebagai peringatan adanya copet. Ucapan (sabîlillâh) asalnya (fî sabîlillâh) sering diucapkan oleh seseorang kepada lembaga/kelompok orang/ perorangan yang mempunyai sesuatu/barang. Maksud dari pengucapan kata tersebut tersebut, ia memberitahukan kepada orang lain bahwa barang ini gratis, namun jika kata tersebut diucapkan oleh anak-anak/peminta, maka yang dimaksud adalah minta sedekah.

Ucapan (moya) asalnya (miyâh) sering diucapkan oleh seseorang untuk menunjuk pada makna air zamzam. Ucapan (moya barîd/moya mubarrad) tulisan ini sering ditemukan di beberapa tempat di Masjidil-Haram, untuk menunjukkan pada makna air dingin. Ucapan (syai bil-halîb) sering diucapkan oleh pembeli kepada penjual minuman, untuk pesan air teh campur susu. Ucapan (bi-kam) selalu dilafalkan oleh seorang pembeli kepada penjual berbangsa Arab, untuk menanyakan berapa harga barang tersebut. Seperti (bikam ufel?) berapa harga gembok ini?. Ucapan (syukran) selalu diucapkan oleh seseorang kepada orang lain yang telah menolong, atau berbuat baik kepada kita, yang artinya terima kasih.

Ucapan (il-‘af) selalu diucapkan oleh seseorang yang meminta maaf kepada orang lain, karena telah berbuat kesalahan, yang berarti minta maaf. Ucapan (il-‘af) juga sering dilafalkan kepada orang yang mengucapkan terima kasih kepada kita, maka kita menjawabnya dengan mengatakan (il-‘af), yang berarti minta maaf (hanya itu yang bisa saya dilakukan atau berikan). Ucapan (ismak-ei) asalnya (ismuka) sering dilafalkan oleh seseorang yang menanyakan nama seseorang yang sedang berkenalan, yang artinya siapa namamu?.

Ucapan (min nein inta) asalnya (min aina anta) sering dilafalkan oleh seseorang yang sedang berkenalan dengan orang asing, terutama yang berbangsa arab, yang artinya dari mana anda?. Ucapan (kefal hâl) asalnya (kaifal hâl) dilafalkan oleh seseorang kepada orang arab, untuk menanyakan keadaannya. Jawaban yang diberikan (alhamdulillâh bi khairin) yang artinya alhamdulillâh baik-baik. Ucapan (ahlan) sering diucapkan oleh seseorang kepada orang lain, untuk menyatakan selamat datang dan bertemu. Ucapan (fadhal) asalnya (tafadhal) sering diucapkan oleh seseorang yang sedang mempersilahkan orang lain untuk melakukan sesuatu, seperti mau berwudlu, minum zamzam atau yang lainnya.

Untuk menunjuk pada arah, orang arab sering mengucapkan kata-kata; (‘ala thûl) lurus, (yamîn) kanan, (syimâl) kiri, (qudâm) depan, (warâ) belakang, (abel) sebelum, (ba’d) setelah, dan (uraib) dekat.

“Selamat Hari Bahasa Arab Sedunia 18 Desember 2021”

يطيب لنا الكلام في مثل هذه المناسبة الجميلة مناسبة اليوم العالميّ للغة العربية وتحلو لنا معها الكلمات والعبارات، فكلّ عام وأبناء الوطن العربي جميعًا ومن ينطق باللسان العربيّ بألف خير

*Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler