Muhâsabah Akhir Tahun 2021

Muhâsabah Akhir Tahun 2021

Dr. H. Mardjoko Idris, M. Ag


Hari-hari berjalan dengan cepat, tak terasa sekarang sudah berada di penghujung tahun 2021, yang beberapa hari lagi akan memasuki tahun 2022. Pergantian tahun itu sesuatu yang biasa, itu menjadi sunah Allah, sejalan dengan firman-Nya

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya:

jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.[1]

Setiap datang tahun baru disitu –semua orang mengerti- bahwa usianya bertambah satu tahun, namun kebanyakan lupa jika jatah hidupnya sudah berkurang satu tahun. Untuk itu rayakan hari ulang tahun dengan cara yang baik dan materi yang baik pula, senang boleh, tapi jangan lupa bahwa jatah hidup ini berkurang satu tahun. Dengan demikian pilihlah acara yang baik, yang bermanfaat untuk kehidupan ini, dan kehidupan akhirat.

Islam mengajarkan kita, antara lain menyongsong tahun baru dengan bermuhâsabah, yaitu melakukan perhitungan terhadap amal kita, baik yang akan kita lakukan untuk hari besuk, atau amal yang sudah kita lakukan. Apa tujuan bermuhasabah?, agar tahun depan pekerjaan yang kita lakukan lebih bermanfaat dan lebih baik dibanding dengan tahun sekarang.

Rasul Muhammad bersabda:” barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, dia orang yang celaka; jika hari ini sama dengan hari kemarin, dia tertipu, dan jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah yang beruntung”. Supaya heri besuk lebih baik dari sekarang, lakukan muhasabah, lakukan perhitungan terhadap amal yang akan dilakukan dan yang telah dilakukan.

Pagi ini, tema yang dibicaran adalah bermuhasabah dengan membaca firman Allah berikut ini :

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Artinya:

kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.[2]

Umat islam dalam menjalankan agama islam ini oleh Allah dikelompokkan menjadi tiga; 1) menganiaya diri mereka sendiri; 2) pertengahan; dan 3) lebih dahulu berbuat kebajikan.

Para mufassir dalam menafsirkan ketiga golongan tersebut berbeda redaksi, namun maknanya sama. Pertama, maksud orang yang menganiaya dirinya sendiriialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya. Keuda, maksud dari pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya sebanding dengan kesalahannya. Ketiga, maksud dariorang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Mufasir lain memahami golongan pertama adalah orang Islam yang amal timbangan kejelekannya lebih berat dari amal kebajikannya, pertengahan adalah orang yang timbangan amal kebajikan dan kejelekannya berimban, dan yang sâbiqun bil-khairat adalah mereka yang timbangan amal kebajikanya jauh lebih berat dari amal kejelekannya.

Mufassir lain memahami"dhalimun linafsihi" adalah orang Islam yang mengerjakan sebagian kewajibannya dan meningalkan kewajiban yang lain, orang Islam dalam kelompok ini suka berbuat kejelekan. Sedangkan kata "muqtashidun" adalah orang Islam yang mengerjakan kewajibannya, namun tidak mengerjakan yang disunatkan oleh agama, orang yang berada pada kelompok ini menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Istilahterakhir yaitu "Sabiqun bil-khairat" adalah mereka yang mengerjakan yang wajib, yang sunat juga dikerjakan, yang makruh ditinggalkan, apalagi yang diharamkan oleh agama Islam.

Ketiga golongan tesebut yang paling beruntung adalah kelompok ke tiga yaitu sabiqun bil-khairat. Dalam beragama ini kita akan menuju ke sana yaitu terwujudnya manusia yang sabiqun bil-khairat.

Ketika rasulullah membaca ayat ini, beliau berkata di depan para sahabat; orang islam yang masuk dalam kelompok ketiga, besok jika wafat akan masuk surga tanpa dihisab. Kelompok kedua, jika wafat akan masuk surga dengan terlebih dahulu dihisab yang ringan atau mudah.Sedangkan yang masuk pada kelompok ke satu, jika wafat akan ditanya dengan sebenar-benar pertanyaan, sehingga mereka merasakan getirnya penderitaan. Pada akhir sabdanya, Rasul menegaskan bahwa ketiga golongan tersebut akhirnya masuk surga. Sebagai pahala bagi mereka telah istiqamah memeluk agama Islam.

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk menjadi orang muslim yang masuk pada golongan ke tiga, yaitu Sabiqun bil-Khairat. Amiin

Wassalam

Desember, 2021


[1]QS. Ali Imran: 140

[2]QS. Fatir: 32

Kolom Terpopuler