Membaca Kartini pada Bulan Ramadan

Membaca Kartini pada Bulan Ramadan

oleh Prof. Dr. H. Machasin, M.A. *

Kubaca lagi potongan surat Kartini kepada kawannya, Stella Zeehandelaar:

Godsdienst is bedoeld als een zegen voor de menschheid, om een band te vormen tusschen alle schepselen Gods. Allen zijn we broers en zusters, niet omdat wij dezelfde menschelijke ouders hebben, maar omdat wij allen kinderen zijn van één Vader, van Hem, die daarboven in de hemelen troont. Broers en zusters moeten elkaar liefhebben, helpen, sterken, steunen. O, God, soms zou ik wenschen, dat er nooit een godsdienst had bestaan. Want deze, die juist alle menschen tot één vereenigen moest, is door alle eeuwen heen oorzaak geweest van strijd en verdeeldheid, van de bloedigste en gruwelijkste moordtooneelen. Menschen van dezelfde ouders staan dreigend tegenover elkaar, omdat de wijze, waarop zij één en denzelfden God dienen, van elkaar verschilt. Menschen, wier harten door de teederste liefde met elkaar verbonden zijn, keeren zich diep ongelukkig van elkaar af. Verschil van kerk, waarin toch dezelfde God wordt aangeroepen, richt een scheidsmuur voor beider voor elkaar luid kloppende harten.

Is godsdienst wel een zegen voor de menschheid? vraag ik me zelf dikwijls twijfelend af. Godsdienst, die ons voor zonden bewaren moet, hoevele zonden juist worden niet onder Uw naam bedreven! [Door duisternis tot licht Gedachten over en voor het Javaansche volk, dari: https://archive.org/stream/doorduisternisto35220gut/pg35220.txt]

Luar biasa. Surat itu tertanggal 6 November 1899. Artinya, ia baru saja berusia 20 tahun 7 bulan.

Pada usia yang sangat muda itu, ia mampu menangkap tanda-tanda zaman, yakni pengamalan agama yang menyimpang dari kesejatian agama.

Agama dimaksudkan sebagai berkah bagi umat manusia, untuk membuhulkan hubungan antara semua makhluk Tuhan. Semua adalah saudara bukan karena mempunyai orang tua yang sama, tetapi karena mereka adalah anak-anak dari satu Bapak, dari Dia yang bertahta di langit di atas sana. Sesama saudara seharusnya saling mencintai, saling menolong, saling meneguhkan, saling menunjang. Ya Allah, kadang-kadang aku berharap tidak ada agama sama sekali, karena agama yang semestinya mempersatukan semua umat manusia ini selama abad justru menjadi penyebab peperangan dan perpecahan, pertunjukan pembunuhan berdarah dan mengerikan. Manusia dari orang tua yang sama berhadap-hadapan saling mengancam karena cara mereka mengabdi kepada Tuhan berbeda. Manusia yang semestinya terikat erat satu sama lain dengan cinta yang paling lembut, justru saling membelakangi dengan kebencian yang dalam. Perbedaan gereja/tempat ibadah yang di dalamnya diseru Tuhan yang sama telah mendirikan dinding pemisah bagi hati yang berdetak dengan keras.

Apakah agama benar-benar berkah bagi umat manusia? sering aku bertanya-tanya dengan gelisah. Agama yang semestinya menjaga kita dari dosa-dosa, betapa banyak dosa yang dilakukan di bawah nama-Mu!

Kesucian bulan Ramadan semestinya membuat dapat membuka kita tentang peran agama, sebagaimana ditulis dara berusia kurang dari 21 tahun itu. Seluruh umat manusia adalah makhluk dan wakil Tuhan yang sama. Akan tetapi sejarah mencatat pertumpahan darah di antara mereka, mulai dari Qabil yang membunuh Habil sampai baru-baru ini orang meledakkan bom agar dirinya mati bersama orang-orang lain yang tak seagama.

Kesucian bulan ini mengingatkan kita bahwa jiwa manusia pada dasarnya suci dan semestinya dijaga, tidak dimusnahkan. Kekotoran perilaku tidak menghalalkan penghilangan jiwa oleh manusia lain, walaupun atas nama agama. Kartini melalui pertanyaan kepada dirinya sendiri dalam surat itu seperti mengingatkan kita akan kesucian jiwa atau hidup manusia itu. Hidup mesti dipelihara, mesti dijaga sampai ajal menjemput.

Kesucian bulan ini semestinya juga mengingatkan bahwa agama berfungsi memagari penganutnya dari dosa-dosa, termasuk tindakan yang sia-sia. Akan tetapi, di sekeliling kita masih banyak penindasan, ketidakadilan, kemubadziran, salah urus, kemalasan, egoisme, dan sebagainya. Semua itu dilakukan atau timbul oleh perilaku pemeluk agama, bahkan sebahagiannya dilakukan atas nama agama.

Lalu?

Kugubah alinea terakhir dari potongan surat di atas menjadi sebaris puisi:

Agama,

Aku bertanya dengan gelisah, benarkah engkau berkah?

Dengan memegangmu semestinya dosa tercegah.

Tapi ….. betapa banyak orang dungu

Melakukan dosa sembari sebut namamu.

Ramadan adalah bulan ibadah. Merenung, memikirkan masalah kehidupan bisa termasuk ibadah jika dimaksudkan untuk memperbaiki. Ketika mengaji kitab Duror (الدرر البهية فيما يلزم المكلف من العلوم الشرعية) kepada guru yang sekaligus bapaku kalimat pertama yang dibaca adalah: باب تتعلمه من العلم أحب إلي من ألف ركعة تطوعا atau “Satu masalah ilmu kau pelajari, lebih kusukai dari pada 1000 raka’at salat sunat. Kalau tidak salah, di situ kalimat ini dinisbahkan kepada Sufyān bin ‘Uyainah, guru Imam al-Syāfi‘ī.

Konon Imam Aḥmad bin Ḥanbal suatu hari kedatangan tamu, yakni gurunya, Imam Muḥammad bin Idrīs al-Syāfi‘ī, yang minta menginap di rumahnya. Sebelum itu dia sering bercerita kepada anaknya mengenai kehebatan gurunya ini dalam hal beragama. Oleh karena itu, sang anak selalu memperhatikan guru ayahnya itu. Apa yang terjadi ketika malam mulai sepi? Sementara sang ayah segera tidur dan menjelang pagi bangun, lalu melakukan salat tahajjud, sang tamu tetap di kamarnya sampai subuh datang. Sama sekali sang anak tidak melihat guru ayahnya keluar berwudu untuk salat tahajud. Hanya tidurnya saja kelihatan tidak nyenyak, kadang telentang, kadang berbalik ke kiri dan tidak lama kemudian ke kanan. Apa kelebihan orang ini dalam beragama?

Pagi hari setelah salat subuh berjemaah, Imam Ahmad bertanya kepada tamunya, bagaimana tidur tuan semalam? Aku sulit sekali tidur, jawab sang guru; tetapi alhamdulillah, telah kutemukan jawaban dari 20-an masalah yang ditanyakan orang kepadaku.

Imam Ahmad lalu menengok kepada putranya, tuh lihat. Aku menghabiskan malam untuk kepetangan istirah badanku dan ibadah individualku, sedangkan Imam al-Syāfi‘ī menghabiskannya untuk kepentingan orang banyak.

Membaca pikiran orang tentang kehidupan, mengikuti riwayat orang-orang yang berhasil, melihat perilaku orang ketika berlalu-lintas, dan sebagainya itu bisa menjadi pengetahuan yang berguna. Syaratnya yang utama adalah bahwa kita mengambil pelajaran dari itu semua. Pelajaran untuk memperbaiki diri sendiri dan menyumbang perbaikan masyarakat.

* Dosen Program Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, email: machasin@uin-suka.ac.id

Kolom Terpopuler