Teater Eska: Tadarus Puisi dan Puisi Sufi
Teater Eska: Tadarus Puisi dan Puisi Sufi
Oleh Dr. Aning Ayu Kusumawati, S.Ag., M.Si. *
Sudah menjadi tradisi tahunan bagi kelompok seniman yang bergabung di Teater ESKA, yaitu tadarusan di bulan Ramadan yang dibaca bukan Quran tapi Quran yang sudah diintisarikan lewat bahasa puisi. Teater ESKA adalah kelompok teater yang menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Teater ESKA adalah kelompok orang-orang yang berkarya tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga seni sastra, seni musik, dan juga seni rupa. Teater ESKA concern mengusung khasanah seni Islam. Boleh dikata kelompok seni yang punya visi mengembangkan seni khususnya teater Islam. Teater ESKA sebagai lembaga seni profetik memiliki orientasi humanisasi, menggali dan mewujudkan seni Islam secara progresif, dan memberikan alternatif bentuk kesenian. Visinya adalah liberasi yakni membebaskan umat dari berbagai bentuk penindasan fisik maupun metafisik. Misi Teater ESKA adalah mendampingi, mendorong, meningkatkan kualitas pemikiran dan penghayatan spiritualitas umat dalam beragama dan berbudaya.
Tadarus puisi dilakukan Teater ESKA sudah sejak tahun 1987 sampai sekarang. Tadarus puisi perdana disutradarai oleh Hamdy Salad dengan mengangakat puisi-puisinya para penyair sufi Nusantara. Tadarus puisi dilakukan setiap tahun di bulan Ramadan. Puisi-puisi yang ditadaruskan adalah puisi-puisi religius dan nyaris atau sering kali membawakan puisi-puisi sufi dari para tokoh sufi maupun pengarang puisi sufi. Misalnya, ‘Simurgh’ dari buku ‘Mantiqut Thayr” karya Fariduddin Attar, karya penyair zaman Khalifah Harun ar Rasyid Al-Atahiyah yang berjudul ‘Garis Hidup’ dan ‘Hidup dan Mati’, ‘Kasidah Burdah’ karya Syeh Al-Busyiri, Mutiara Nahjul Balaghah, Puisi-Puisi Muhammad Iqbal (Pakistan), puisi-puisi Jalaluddin Rumi dan juga karya-karya dari Tanah Air pun tidak ketinggalan untuk ditadarusi. Misalnya, Suluk Kalijaga dari Serat Sunan Kalijaga, Keluk Gurindam karya Raja Ali Haji, Isyarat Jibril dari “Al Quran Bacaan Mulia” puitisasi terjemahan Quran karya HB. Yasin, Tarian Mabuk Allah karya Kuswaeidi Syafi’i, Makrifat Cinta karya Otto Sukatno, dan sebagainya. Puisi-puisi tersebut tidak sekadar dibacakan, akan tetapi dikreasikan dalam wujud teatrikalisasi puisi atau musikalisasi puisi yang intinya kekhusukan dan sampainya makna-makna puisi tersebut ke penonton.
Pada Ramadan tahun ini Teater ESKA mengangkat puisi-puisi sufi legendaris, yaitu syair Rabi’ah al Adawiyah yang terangkum dalam buku Mahabbah Cinta yang diterbitkan oleh penerbit Bentang. Karena pandemik Corona dan terbatasnya waktu latihan, tadarus puisi dilaksanakan dengan membaca secara bergiliran dengan duduk melingkar, penonton bisa menyaksikan lewat chanel youtube. Diiringi musik akustik dari petikan gitar khas Rusmansyah, tadarus ini dibuka Marhalim Zaini penyair dari Riau membaca syairnya Rabi’ah :
Saudara saudaraku
Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagianku
Kekasihku selalu dihadapanku
Tak mungkin aku dapat penggantinya
Cintanya pada makhkluk cobaan bagiku
Dialah tujuan hidupku
Hati yang ikhlas tumpuan harapan
Merekalah jalan untuk meredam keresahanku
Oo Tuhan
Sumber bahagia dalam hidupku
PadaMu saja kuserahkan hidup dan keinginan demi mencari ridhaMu
……
Syair cinta yang bagi membaca dan menghayatinya serasa menusuk jantung kalbu. Rabi’ah telah memutuskan untuk tidak mengikatkan hatinya pada dunia. Baginya kebahagian dan ketenangan adalah ketika selalu bersama kekasihnya, bersama kekasihnyalah yang menjadi tujuan hidupnya. Syair dari seorang sufi di atas menjadi nutrisi bagi manusia pada zaman digital sekarang ini karena manusia semakin kesulitan menemukan dirinya. Dengan menyitir perkataan Mohammad Guntur Romli dalam buku Syahadat Cinta Rabi’ah al Adawiyah, Râbi'ah telah membangun hubungan baru dalam agama, dari penghambaan menjadi percintaan, dari ibadah menjadi mahabbah. Manusia tidak lagi memandang Tuhan dengan ketakutan dan pamrih tapi suatu relasi intim antarkekasih yang dipenuhi keakraban, kehangatan, dan kerinduan.
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cinta pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku meyembah-Mu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan meperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku
Tema cinta dalam puisi para sufi bukan cinta seperti dipahami secara umum, bukan cinta yang memiliki lawan kata, akan tetapi cinta di sini adalah cintanya kepada Yangabadi, dengan tujuan puncaknya adalah makrifat billah. Maka cuplikan puisi Rabi’ah di atas memberi efek yang luar biasa bagi pembaca. Seolah diri begitu hina setelah ibadah yang kita lakukan jauh dari kata ikhlas dan jauh dari kata untuk tidak pamrih. Sebab dalam diri masih bercokol dan memberikan porsi yang lebih untuk hal yang fana. Tujuan hidup menjadi bergeser, dunia menjadi tujuan utama.
Wallahu a’lamu bissawab.
*Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta